Philophobia Chapter 4: Algoritma

PHILOPHOBIA
CHAPTER 4: ALGORITMA
Aldi Reynaldi

Memikirkan kejadian tadi malam saja sangat membuatku badmood. Luna sudah bersama Adam, sekarang apa lagi? Tidakkah aku menyadarinya selama ini? Yang kulakukan seharusnya menjauhinya. Memang benar penyesalan selalu datang di akhir cerita. Ia selalu saja hadir di kala logika kita dipermainkan. Apabila salah dalam mengeksekusi suatu cerita, maka sesal lah yang akan menyelesaikan perkara.

Kini aku hanya terdiam saja di dalam kamar. Meskipun aku sudah siap untuk berkuliah pagi ini. Tapi tetap saja, pikiranku ke mana-mana. Akhirnya kembali seperti awalnya, aku hanya duduk diam di ranjangku yang empuk ini. Alunan musik pun ikut membantuku untuk tetap tinggal di kamar ini. Tak biasanya pula aku menyalakan musik di pagi ini. Playlist kali ini pun tak seperti ketika aku kasmaran dulu. Semua yang terputar adalah lagu-lagu bernuansa patah hati. Hingga pada akhirnya aku berada di bawah pengaruh salah satu lagu yang kuputar. Setelah mendengar dengan cukup seksama, aku pun keheranan, bahkan aku tidak ingat jika pernah menyimpan lagu seperti ini di playlist-ku.

Namun tiba-tiba kau ada yang punya
Hati ini terluka
Sungguh ku kecewa, ingin ku berkata
“Kasih maaf bila aku jatuh cinta”
“Maaf bila saja kusuka saat kau ada yang punya”
Haruskah kupendam rasa ini saja?
Ataukah kuteruskan saja?
Hingga kau meninggalkannya dan kita bersama

Tak lama, Revo kemudian mengetuk pintu kamarku. Seketika itu pula suasana menjadi berubah. “Bang, Ibu manggil tuh, sarapan,” katanya dari luar kamarku.
Tak seharusnya juga aku seperti ini. Hanya gara-gara seorang gadis yang memabukkanku, aku malah mengabaikan kepentinganku sendiri. Bagiku kuliah adalah prioritasku saat ini, aku tak ingin mengecewakan kedua orang tuaku. Dengan terpaksa aku harus meninggalkan kamar yang kuanggap tempat meditasi pribadiku ini. Ya, walaupun nafsuku saat ini hampir tak ada sama sekali untuk memulai hariku. Tidak dengan sarapan, tidak juga dengan kuliah. Tidak ingin rasanya aku bertemu dengan orang-orang hari ini.

***
Ibu telah menyiapkan sarapan seperti biasanya dengan senyum di wajahnya. Hampir setiap hari kuperhatikan Ibu selalu menampilkan wajah yang menyenangkan. Betapa bahagianya Ayah mendapatkan seorang wanita seperti Ibu. Tak ada konflik di keluarga kami. Mereka berdua begitu serasi dan harmonis. Apalagi Ayah pernah cerita jika mereka telah berpacaran semenjak di bangku SMA. Bayangkan saja sudah berapa lama mereka terus seperti ini.

“Loh kok muka kamu gak fresh gitu, San? Kamu sakit?” kata Ayah sembari membuka pembicaraan kami. Di setiap pertemuan kami di meja makan ini, yang menjadi bahan pembicaraan pastilah selalu aku. Seperti tidak ada lagi bahan yang ingin dibicarakan selain masalahku. Kursi ini pun sudah seperti kursi panas saja. Pertanyaan demi pertanyaan yang bersifat privacy selalu ditanyakan Ayah, sedangkan Revo selalu bisa menerka masalahku.
“Mm, just fine,” kataku dengan datar.
“Ah masa, Ayah gak percaya ah, Revo gimana dengan teori kamu kali ini?” tanya Ayah pada Revo. Kampret, ternyata mereka selama ini sudah bersekongkol untuk menginterogasiku. Pantas saja tak ada bahan pembicaran lain selain masalahku.
“Kalo dianalisis lebih dalam, raut wajah bang Ihsan agak seperti capek. Capek yang dialami pun bukan kaya capek fisik. Tapi lebih ke pikiran. Sebelum Revo ngetuk pintu kamar bang Ihsan pun udah kedengeran tuh, lagu-lagu galau, Ayah udah bisa simpulkan?” kata Revo sambil mengoles rotinya dengan selai kacang.
“Oalah, kamu putus dengan Luna?” tanya Ayah dengan sedikit tertawa.
“Ihsan gak pernah pacaran dengan Luna,” kataku dengan sedikit jengkel.
“Heh jadi selama ini kamu ngapain aja? Kok belom jadian aja?” tanya Ayah. Oke, itu adalah pertanyaan ter-kampret yang pernah kudengar.
“Ayah??” kata Ibu sambil menggeleng ke arah Ayah, mimik Ibu seperti menyuruh Ayah untuk menghentikan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Inilah yang kusukai dengan Ibu. Ia mengertiku, baik perasaanku, kemauanku, serta kebutuhanku. Tak seperti Ayah dan Revo yang selalu menyudutkanku.

***
Akhirnya aku telah sampai di kampus. Gara-gara terlalu lama membuang waktu di rumah tadi, kali ini aku agak terlambat untuk memasuki kelas. Ketika aku memasuki ruang kelas, kulihat hampir semua mahasiswa telah memenuhi bangku yang tersedia di bagian depan. Tak apa lah, kupikir kali ini aku hanya ingin sendiri dan tidak ingin berinteraksi dengan siapapun. Setelah melirik ke mana-mana, akhirnya kuputuskan untuk duduk di bangku paling belakang, sendiri.

Sudah hampir bermenit-menit berlalu namun dosen yang bersangkutan belum datang. Kelas terasa berbeda kali ini. Atas apa yang terjadi pada kami beberapa hari lalu, semuanya berubah. Bibo yang biasanya mencairkan suasana di kebosanan kami sekarang hanya terdiam di bangkunya, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Kimmy bahkan telah benar-benar melupakanku. Tak ada lagi teriakannya yang sering dilakukannya setiap pagi. Adam dan Luna semakin lengket saja. Mereka pun tak ada bereaksi terhadapku hari ini. Sedangkan Fikri tetaplah menjadi dirinya yang pendiam ketika berada di keramaian.

Segera kupasang earphone di smartphone-ku dan melanjutkan playlist yang tadi pagi terputus. Hingga pada akhirnya sebuah lagu yang mengena itu terputar kembali. Kemudian aku sengaja membesarkan volume suara smartphone-ku untuk lari dari keramaian ini. ­Kucari liriknya di internet dan pelan-pelan kunyanyikan. Ternyata benar-benar seperti yang kurasakan saat ini. Bagaimana bisa sebuah lagu sangat pas baik dari segi nuansa maupun lirik, semuanya seperti sudah ditentukan saja untukku.

Kini aku benar-benar telah hanyut dalam suasana. Tak ada lagi suara dari luar yang kudengar. Seperti aku sedang sendiri saja di kelas ini. Lama aku menatap lirik ini dan bernyanyi seperti penyanyi aslinya. Namun di tengah-tengah nyanyianku ini, aku juga keheranan mengapa sunyi sekali kali ini. Kucoba menoleh ke depan dan melihat situasi sekarang. Oke, sekarang semua mata mengarah padaku. Kubuka earphone yang sedari tadi menempel di telangaku. “Apa?” tanyaku pada yang lain.

“Suara lu bagus juga San,” kata salah seorang temanku yang berada di dekatku. “Lagunya juga,” lanjutnya lagi. Sh*t, kupikir aku telah memelankan suaraku, tapi malah sebaliknya. Meskipun semua menatapku, namun Bibo dan Kimmy hanya terdiam saja tak berkutik sama sekali. Kurasa mereka juga merasakan hal yang sama denganku, seperti efek domino saja. Fikri terlihat heran melihatku dan wajahnya menampilkan mimik yang sepertinya ingin bertanya padaku apa yang terjadi padaku saat ini. Kemudian kugelengkan saja kepalaku untuk memastikan tak ada apa-apa. Lalu kulihat Luna, ia kemudian membalas pandanganku dengan senyuman kecil di bibirnya, seperti biasanya. Apa-apaan senyuman itu, itulah yang selalu ia bisa berikan padaku. Segera saja kumalingkan wajahku darinya dan kembali kuputar playlist-ku, kini tanpa nyanyian dariku.

Tak lama kemudian dosen yang bersangkutan pun tiba, terpaksa aku harus menghentikan aktivitasku dan bersiap menerima materi perkuliahan. Ia kemudian terlihat tergesa-gesa mengeluarkan laptop-nya dari tas yang keliatan sudah tua.
“Selamat pagi, semua. Maaf ya saya terlambat, saya ada keperluan sebentar tadi,” katanya sambil memberikan lembar isian absensi ke mahasiswa yang duduk paling depan.
“Ini sudah kali ke berapa kita belajar alpro?” tanyanya pada mahasiswa.
“Baru sekali pak,” kata salah seorang mahasiswa.
“Oh iya berarti ini kali kedua ya, minggu lalu kita belum ada masuk materi, ya. Jadi hari ini kita akan mempelajari dasar-dasarnya dulu aja, ya yaitu mengenal apa itu algoritma dan apa itu pemrograman, lalu apa yang di maksud dengan algoritma pemrograman,” katanya berusaha menjelaskan. Didengar dari nama mata kuliahnya saja sudah membuatku berpikir bahwa mata kuliah ini gonna be tough.

Cukup lama ia menerangkan dasar-dasarnya pada kami. Pembawaannya pun dalam mengajar sangatlah baik. Namun masih ada satu hal yang mengganjal di pikiranku, yang ingin kutanyakan padanya.
“Ada yang ingin bertanya sebelum saya akhiri pertemuan kali ini?” tanya Pak Gary pada kami.
“Pak,” kataku sambil mengangkat tangan tanganku.
“Ya?” tanyanya padaku.
“Fungsi algoritma ini seperti apa ya, pak?” tanyaku santai.
“Jadi gini, kita analogikan saja, misal kamu lagi in love degan seseorang, apa yang akan kamu lakukan?” tanyanya balik padaku.
“PDKT, mungkin,” kataku spontan. Yang lain pun tertawa akan jawabanku.
“Nah seperti itulah seharusnya. Jadi, algoritma itu berguna dalam membuat suatu program agar lebih mudah dan efisien dalam hal peng-code-ingan. Kalo kasus kamu kan, misal programnya PDKT, kalo dalam hal itu, step-by-step dalam PDKT-lah yang menentukan keberhasilan kamu dalam membuat program. Jika langkah-langkah yang kamu buat dalam program tepat, maka ending yang kamu inginkan dapat sesuai. Sebaliknya, apa yang kamu inginkan malah tak sesuai dengan kehendakmu. Jika saja ada suatu kondisi yang tidak diinginkan atau tidak tercapai, maka proses akan melakukan pengulangan yang tiada henti hingga akhirnya berakhir. Satu lagi, algoritma juga bertujuan untuk membuat solusi yang lebih cepat dan tidak memberatkan sistem, istilah kerennya sih problem solving. Nah lagi kalo contoh kasus tadi, algoritma dapat membuat PDKT-mu menjadi tidak merepotkan kamu sendiri,” katanya sambil tersenyum ke arahku. Boleh juga dosen ini, tahu saja permasalahanku. Sekarang aku juga berpikir, apakah raut wajahku mudah sekali terbaca? Dari tadi pagi hingga sekarang, hampir semua melihatku seperti aku sedang ada masalah. Tapi tidak dengan Luna yang tetap memberikan senyuman padaku, apa pun situasinya.
“Baiklah, ada pertanyaan lagi?” tanyanya lagi. “Tidak ada? Baiklah kalo begitu kelas saya tutup. Sampai jumpa minggu depan,” katanya lalu bergegas meninggalkan kelas.

***
Sore ini aku sedang berada di toko CD langgananku. Sudah lama sekali aku tidak memperbarui koleksiku. Toko ini terletak agak jauh dari rumahku, jadinya jika pergi ke sini maka aku akan memborong banyak CD sekaligus. Tentu saja terlebih dahulu telah kucatat album-album apa saja yang akan kubeli. Kali ini koleksi yang tersedia benar-benar sesuai dengan harapanku. Kali ini koleksi yang ada benar-benar sesuai dengan harapanku. Hampir semua yang ingin kubeli ternyata ready stock. Sebelum ke kasir untuk membayar, ada kebiasaan yang selalu kulakukan di sini. Tak ingin kusia-siakan datang jauh-jauh ke sini, aku selalu menghabiskan waktu yang agak lama berada di toko ini. Ya, mendengarkan musik lewat headphone yang disediakan pihak toko untuk album yang ingin kita beli. Karyawan toko pun sudah hapal sekali akan kebiasaanku ini, mereka pun tak mempermasalahkannya, toh aku juga pelanggan setia di sini.

Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam, akhirnya aku telah membeli dan mendapatkan CD yang kuincar. Aku keluar dari toko ini dan berjalan pergi ke destinasiku berikutnya, sebuah kafe milik pamanku yang tak jauh dari sini. Aku biasanya ke sana untuk menceritakan masalahku dengan paman. Ia adalah orang yang pandai memberikan solusi. Namun akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dan tak memiliki kesempatan untuk mengunjunginya. Kukira baru hari ini saja aku bisa free dari terpaan pekerjaan di kampus.

Sore ini begitu tenang, tak banyak orang berlalu lalang di jalanan menggunakan kendaraannya. Letaknya yang agak jauh dari keramaian mungkin yang menyebabkannya seperti ini. Berjalan dengan santai, tidak butuh waktu yang lama untuk aku menemukan kafe pamanku. Kafe ini begitu hangat, suasananya pun seperti sedang bukan berada di kotaku saja. Setibanya di sana, tiba-tiba aku melihat Luna. Aku pun heran karena daerah ini cukup jauh dari tempat kami, bagaimana bisa ia ke sini, aku yakin Adam pun pasti jarang pergi ke sini. Setelah kulihat dengan seksama, ternyata Luna bersama seorang pria yang aku pun tidak mengenalnya, ia bukan Adam. Gawat, bisa ketahuan kalau Luna melihatku. Aku sudah memutuskan untuk menjauhinya mulai saat ini. Aku tak ingin lagi berhubungan dengannya. Cepat-cepat kubalikkan tubuhku membelakanginya berharap ia tak melihatku.

Namun aku tak cukup pandai ber-acting. Aku lupa jika aku mengenakan tas yang sering kupakai ke kampus. Tentu saja ia akan mengenaliku.
“Ihsan? Kamu mau ke sini?” tanya Luna menghampiriku.
“Eh, gak, kebetulan lewat aja,” kataku berusaha tidak menatap wajahnya.
“Sayang, dia siapa?” tanya pria di sampingnya yang sedari tadi bersamanya. Sayang? Luna selama ini punya pacar? Wajahku pun seketika berubah.
“Ini Ihsan, teman aku,” kata Luna ke pria tersebut. Teman, ya, aku lupa, friendzone.
“Kita mau ke kafe ini lho, mau gabung gak?” tanya Luna padaku.
“Oh gak, aku mau pergi ke toko CD di dekat sini,” kataku segera meninggalkan mereka.

Kukira ia dengan Adam selama ini berpacaran, kecurigaanku ternyata salah. Bahkan ada lagi seseorang yang memanggilnya dengan panggilan sayang. Sekarang aku malah berpikir apakah ia benar tak berpacaran tapi menjalin hubungan dengan pria tadi atau ia memang seorang playgirl. Semua tentang Luna begitu misterius. Semenjak aku mengenalnya, hampir tak bisa aku membaca apa yang ia pikirkan. Di balik itu semua aku pun merasa agak tenang. Jika Adam tahu akan hal ini, kupikir ia akan hancur. Gadis yang selama ini bersamanya ternyata dimiliki oleh orang lain tanpa sepengetahuannya.

***
Beberapa minggu telah berlalu semenjak tragedi yang menimpa kami terjadi. Sudah hilang juga komunikasiku dengan keempat temanku, Bibo, Kimmy, Adam, dan tentu saja Luna. Aku pun perlahan sudah bisa melupakan Luna. Hanya Fikri lah saja yang menjadi teman bicaraku sekarang. Beberapa hari terakhir kami jadi sering bersama jika ada sesuatu. Sampai pada akhirnya ia mengajakku ke festival malam ini. Tak ada salahnya pergi ke festival bersama dengan teman, apalagi sekarang sudah memasuki masa liburan perkuliahanku. Aku tak menghiraukan waktu yang kuhabiskan di pagi atau pun malam hari. Semua waktu liburanku ingin kuhabiskan dengan melakukan banyak aktivitas alih-alih untuk melupakan semua masalahku.

Festival ini ternyata tak begitu jauh dari kafe Fikri. Di sana terdapat banyak sekali stand yang menjual berbagai barang-barang keren, makanan-makanan tradisional hingga internasional, permainan-permainan, dan hal-hal aneh lainnya seperti perlombaan menjadi patung. Festival ini memang dibuka pada malam hari dan hanya dilakukan setahun sekali, mungkin juga untuk memperingati hari kelahiran kotaku.

Gila, ramai sekali di sini. Orang dewasa, anak-anak, tak ketinggalan muda-mudi pun memenuhi festival ini. Fikri lalu meninggalkanku di keramaian ini. Ia lalu menuju ke salah satu stand. Mungkin ia menginginkanku untuk mengeksplor tempat ini sendirian. Mungkin ia berpikir dengan begitu aku merasa tak terkekang berada di dekatnya terus, begitu pun sebaliknya dengannya. Akhirnya aku berhenti di salah satu stand makanan Jepang. Lalu aku membeli sekotak takoyaki dan kemudian pergi menuju tempat yang tidak begitu ramai.

Aku berputar-putar mencari tempat yang pas untuk memakan takoyaki-ku. Sejauh mata memandang, yang kulihat manusia di mana-mana. Akhirnya aku mencoba berjalan menuju stand-stand yang cukup sepi. Aku pikir semakin sepi area di sekitar stand, maka aku akan menemukan jalan menuju ke tempat yang lebih sunyi. Benar saja, aku menemukan sebuah taman yang hanya diisi dengan beberapa orang saja.

Aku duduk di salah satu bangku yang disediakan di sana. Kuperhatikan disekitarku, agak aneh aku melihat pemandangan ini. Kiri dan kananku semuanya berpasangan baik orang dewasa atau pun anak kecil. Setelah aku melihat nama taman ini, ternyata ini Taman Cinta. Kampret, aku salah masuk area. Pantas saja sunyi begini, yang lain saja sibuk dengan pasangan mereka sendiri-sendiri. Tak kupedulikan keadaan sekitar, aku akan tetap menikmati makananku di sini. Baru saja aku menyunyah satu takoyaki-ku, aku melihat Bibo dan Kimmy berjalan masuk ke taman ini.

Setelah lama tidak berjumpa semasa liburan, tak kusangka mereka sudah bersama. Aku pikir mereka akan mengabaikanku seperti biasanya. Ternyata tidak, mereka menghampiriku.
“IHSAAAAN!!” teriak Kimmy padaku seperti dulu. Hah? Apa aku tidak salah dengar? Ia meneriaki lagi? Kupikir hubunganku dengannya sudah tak baik lagi.
“Ui, San,” sapa Bibo kemudian.
“Eh, kalian?” tanyaku sambil mengunyah takoyaki-ku.
“Aku minta maaf, ya, San atas yang aku lakuin ke kamu selama ini,” lanjut Kimmy.
“Gue juga minta maaf, San. Gak seharusnya gue nyuekin lu,” timpal Bibo.
“Heh?” aku semakin kebingungan melihat mereka.
“Eh iya, kami baru jadian lho,” kata Bibo padaku.
“Heh?” aku terkejut sampai ingin tersedak.
“Hahaha, kami ke sana dulu, ya, San,” kata Kimmy sambil menarik Bibo menuju ke arah lain di taman ini.

Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka belakangan ini. Raut wajah mereka kelihatan bahagia sekali. Yang penting aku bersyukur bahwa Kimmy sudah bersama dengan Bibo. Mereka kelihatan saling mencintai, mereka layak seperti itu. Dengan begini, hubungan kami bertiga pun sudah tak ada kekeliruan lagi. Tapi tetap saja agak awkward berada di taman ini jika sedang single.

Setelah menghabiskan makananku, aku keluar dari tempat ini. Lalu aku berjalan menuju sisi yang lainnya. Meskipun festival ini cukup ramai, tapi aku tetap merasa jika aku hanya sendiri di sini. Semua yang kulihat tak ada yang menarik perhatianku di sini. Hingga saatnya muncullah salah satu orang yang berhasil menarik perhatianku, Luna.

Sudah lama aku tak bertemu dengannya. Ia tetap saja cantik seperti biasanya. Kulihat pula Adam di dekatnya. Ia membelikan banyak sekali barang-barang untuk Luna. Kemudian mereka menuju bangku yang terletak di antar dua buah stand.

Daripada tidak ada yang kulakukan di sini, lebih baik aku nge-stalk mereka dari belakang, pikirku. Aku pun mengendap-ngendap berjalan menuju ke arah mereka, tentu saja lewat belakang. Semua kulakukan dengan hati-hati agar mereka tak melihatku. Sudah seperti pencuri saja tingkahku saat ini. Cukup memakan waktu juga untuk menghampiri mereka. Untunglah mereka belum pergi dari tempat ini. Dari belakang salah satu stand, aku segera memasang telingaku untuk mendengar pembicaraan mereka.
“Kamu mau kan? Kita balikan..,” kata Adam pada Luna sambil memegang tangannya.
“Mmmm, ya…,” kata Luna yang terdengar sedikit ragu.

Sekarang aku menyesal mengendap-ngendap untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Bukan hal seperti itu yang ingin kudengarkan di pembicaraan mereka. Tapi tunggu, balikan? Berarti sebelumnya mereka sudah pacaran tapi mereka sudah putus juga. Wajar saja Adam selalu mendekati Luna, ternyata mereka pernah berpacaran dulu. Dan selama ini yang menjadi pacar Luna adalah pria yang kulihat di kafe waktu itu. Heh? Aku semakin bingung saja, berarti belum lama ini juga Luna putus dengan pria yang waktu itu. Aku pikir Luna adalah sosok yang aneh bagiku. Hubungannya dengan banyak pria sangatlah membuatku illfeel. Jika dikronologikan, ia mungkin semasa SMA dulu bersama Adam, lalu mungkin menjalin dengan pria yang di kafe waktu itu, selama kuliah kami mungkin berusaha untuk berdekatan namun Adam juga mendekatinya lagi, namun ia masih tetap berpacaran dengan pria tersebut. Semua terlhat complicated bagiku. Kupikir ia sedang berselingkuh, kurasa aku tak perlu lagi mendekatinya, gadis yang kukagumi waktu itu.

***
Semester baru di mulai. Aku menemukan kembali semangatku seperti dulu. Aku sudah memantapkan diriku untuk tak terpengaruh dengan hal cinta-cintaan. Kimmy dan Bibo sudah bersama. Sedangkan Adam dan Luna, aku tak peduli lagi dengan hubungan mereka. Fikri tetap dengan kelakuannya meskipun kami sudah naik semester. Ini benar-benar seperti brand new day.

Setiap kali kami berkumpul, tidak lagi aku memerhatikan Luna. Aku sudah benar-benar cuek bebek dengannya. Tak lagi aku terkagum-kagum dengan keindahannya. Gadis yang kukenal ternyata tidak sesuai dengan harapanku. Semua kelakuan dan perbuatannya sangat tidak menyenangkan bagiku. Bagaimana jika aku yang sekarang bersamanya? Mungkin hubunganku pun akan dikhianatinya.

Tapi yang kulihat saat ini Adam dan Luna tak selengket seperti biasanya. Gelagat mereka pun kali ini berbeda. Aku pikir mereka sedang ada masalah. Apa pun itu masalahnya yang penting aku tidak ikut campur urusan mereka dan aku sama sekali tidak tertarik untuk mengetahuinya. Jika mereka bertengkar hingga putus pun aku tidak peduli lagi dengan mereka. Sudah hampir tak pernah lagi aku dan Adam berbicara. Kuyakin Adam sudah mengetahui arahku selama ini, ia tentu tak ingin aku menjadi saingannya. Sedangkan Luna, she’s not takin’ any part in my heart again.

***
Malam ini ingin rasanya aku menghabiskan waktuku di kafe paman, hanya sekedar cerita-cerita saja tentang masalahku yang lalu agar lebih lega. Besok juga hari minggu, tak ada salahnya aku ke sana sekaligus bersantai. Jika aku pergi ke sana meskipun malam-malam seperti ini, kedua orang tuaku tentu tidak khawatir karena tujuanku adalah tempat keluargaku sendiri. Segera saja aku pamit dengan kedua orang tuaku dan keluar. Sesaat setelah menutup pintu rumah, kulihat daun-daun mulai berguguran di sekitar depan rumahku. Anginnya bertiup amat kencang sekali malam ini. Kupikir aku harus kembali masuk ke rumah untuk mengambil jaket kulitku.

Butuh waktu sekitar empat puluh menitan untuk sampai di sana. Setibanya di sana ternyata kafe paman telah tutup. Aku pun heran padahal sekarang baru pukul setengah sebelas. Biasanya kafe ini tutup hingga larut malam, bahkan pernah sampai jam tiga subuh. Segera kuparkirkan motorku di dekat salah satu motor lainnya. Aku melangkah kafe paman dan mulai mengetuk pintu.

Setelah lama aku mengetuk, seseorang kemudian membuka berbicara di balik pintu, “kafe udah tutup.” “Paman, ini aku,” balasku padanya. Tak lama ia pun membuka pintunya dan melihatku. “Eh, kamu, San. Ayo masuk dulu,” kata paman. Setelah aku masuk ke dalam, ternyata ada seorang wanita yang duduk seperti sedang depresi.
“Paman, siapa dia?” tanyaku penasaran.
“Biasa, client,” kata paman. Memang benar pamanku ini sudah seperti psikolog saja, semua keluhan yang biasa aku rasakan, jika aku bercerita dengannya maka berbagai solusi akan diberikannya untukku. Untuk itulah aku ke sini.
“Paman masuk dulu sebentar, kamu temenin cewe yang di sana dulu gih,” katanya.

Aku kemudian melangkah mendekatinya, lalu aku tarik kursi di sampingnya dan duduk agak jauh darinya. Ia tampak tak bergairah sekali. Wajahnya ditempelkan ke meja, aku tak bisa melihatnya. Rambutnya kusut, acak-acakan, seperti orang yang sudah tak terurus sama sekali. Orang seperti ini berkonsultasi dengan paman seperti ini, sudah jelas ia memiliki masalah yang lebih besar daripada masalahku.

Paman kemudian datang membawa beberapa gelas yang kelihatannya baru selesai dicuci.
“Kamu minum yang kaya biasa, San?” tanya paman padaku.

Saat paman bertanya padaku, wanita di sampingku ini pun seketika bereaksi. Ia bangun dari keadaannya sekarang lalu menoleh ke arah paman.
“San?” tanyanya pada paman.
“Oh maaf, saya ngomong dengan ponakan saya,” kata paman pada wanita di sampingku ini.
Wanita aneh ini pun kemudian menoleh ke arahku. W-T-F-! Dia adalah Luna. Ia begitu kacau, wajahnya, wambutnya, bahkan aku sampai tidak mengenalinya.
“Ihsan?” Luna keheranan melihat kehadiranku di sini.
“Luna?” tanyaku dengan lebih keheranan lagi dengan apa yang terjadi dengannya.
“Kalian udah saling kenal?” tanya paman.
“Dia lah yang kuceritakan selama ini om,” kata Luna pada pamanku.
“Heh cerita apa aja Luna ke paman?” tanyaku pada paman.
“Oke, paman rasa karena kalian ingin berkonsultasi dengan paman tentang masalah yang sama. Lebih baik kalian omongkan sendiri masalah kalian biar lebih clear,” kata paman sambil meletakkan kembali gelasnya.
“Tapi paman..,” kataku.
“Cara ini jauh lebih baik, paman tinggalkan kalian sendirian di sini,” kata paman lalu melangkah masuk ke dalam.

Suasana ini persis sekali seperti yang kualami di bawah pohon apel waktu lalu. Aku tau kami akan saling bertukar pikiran kali ini. Ingin sekali aku meluapkan semua tapi tetap saja aku tak bisa. Pada akhirnya kami hanya terdiam di sini.

Hampir sepuluh menit kami tak bersuara. Lalu kemudian kuliaht Luna mulai bergerak. Mungkin sudah tak tahan, kemudian Luna mulai berbicara padaku, “San, kamu kenapa sih akhir-akhir ini ngejauhin aku?” tanyanya dengan nada agak kasar.
“Sudah seharusnya, kan?” tanyaku balik ke dia.
“Kamu tega dengan aku, San, kamu gak liat aku sekarang kaya gimana?” tanyanya lagi.
“Untuk apa? Kamu jangan suka sandiwara deh,” balasku pedas.
“Sandiwara apa?” tanyanya dengan dengan agak kecewa.
“Ah jangan pura-pura lah, kamu sering gonta-ganti cowo, kan? Lalu kamu pura-pura seperti ini supaya aku iba ke kamu, aku muak Lun, aku muak dengan tingkah kamu,” kataku.

Suasana di luar kafe pun semakin menjadi-jadi, angin semakin ribut seperti ikut campur dalam percekcokan kami.
“Cowo siapa? Yang mana? Aku gak ngerti apa yang kamu maksud!” katanya.
“Cowo yang waktu itu di sini, sore waktu itu,” kataku.
“Gini, dia memang pacarku dulu, tapi kami ke sini bukan nge-date. Kami cuma mau ngomongin soal hubungan kami. Kami sama-sama mau putus dengan cara damai. Dia telah nemuin yang baru, begitu juga aku,” kilahnya.
“Nemuin yang baru, siapa? Hmm Adam, kan? siapa lagi? Mantan kamu yang paling kamu sayangi itu,” ketusku.
“Jangan sebut-sebut nama dia lagi!” katanya dengan nada yang cukup tinggi.
“Kenapa? Kamu dan Adam berpacaran, kan? Mengapa harus galau-galau segala,” kataku.

Suasana semakin memanas, kepalaku pun serasa ingin meledak dibuatnya.
Luna kemudian bergegas dan berdiri di sampingku.
“Aku gak cinta sama dia,” kata Luna mencoba menjelaskan.
Aku kemudian pun berdiri dan menatapnya.
“Kalau kamu gak cinta, kenapa kamu terima lagi dia saat festival malam itu?” tanyaku dengan sedikit emosi.
“Kenapa kamu gak bilang ke aku dulu sebelum dia?” tanyanya lagi dengan emosi yang sama denganku.
Kemudian suara petir menggelegar, mengisi suasana pertengkaran kami.
“Bagaimana aku mau bilang, kamu selalu berada dengan banyak cowo!!” kataku dengan penuh emosi.
“Cowo yang mana lagi maksud kamu??!!” tanyanya dengan semakin marah.
“Ya banyak lah!! Cowo yang di kafe ini, Adam, Fikri, semua cowo kamu embat!!!” kataku dengan amarah meluap-luap.
“Aku tadi sudah bilang kan? Aku sudah putus dengannya. Lalu Adam, aku gak cinta dengannya. Aku terpaksa nerima karena mungkin dengan balikan dengannya aku bisa ngelupain kamu. Tapi gak, kami juga sudah putus, aku gak tahan dengan dia. Lalu Fikri, dia cuma mata-mata aku aja, aku selalu mendapatkan info tentang kamu darinya,” katanya pelan.
“Kamu gunain Fikri buat ngawasin aku? Buat apa? Kamu bukan siapa-siapa aku!!” kataku penuh amarah hingga seisi ruangan ini bergema.

Kami kemudian terdiam sejenak, Luna memalingkan wajahnya dan ia mulai menitikkan air mata.
“Aku tuh cinta sama kamu San!!” teriaknya lagi.
“Aku juga!!!” teriakku.

Suara petir kembali terdengar lalu hujan pun turun di saat-saat seperti ini. Mata kami kemudian saling bertemu. Desahan napas kami pun terdengar. Terlalu banyak emosi yang kami keluarkan saat ini. Sekarang kami terdiam lagi berusaha mengatur napas kami. Kemudian Luna lebih mendekat dan ia memelukku.
“Kau pikir aku gak cemburu kalo Kimmy peluk-peluk kamu kaya gini,” katanya pelan.
“Udah cukup lama aku nungguin kamu, tapi kamu gak pernah dateng lagi, San. Dateng ke hati aku,” katanya lirih.
“Walau kau pikir aku dekat dengan Adam, bukan berarti aku cinta atau sayang dengannya. Hati aku udah aku simpan buat kamu, hanya kamu,” katanya lagi.
Sekarang aku sudah benar-benar cukup lega. Lalu kucoba lepaskan pelukannya lagi.
“Kamu tau betapa sakitnya aku ketika melihat kamu selalu bersama cowo-cowo yang lain? Kamu seharusnya jadi milik aku, bukan mereka,” kataku sambil memegang kedua bahunya.
“Sekarang kamu udah dapetin aku, San,” katanya lagi.
“Gak, aku gak mau milikin kamu,” kataku lagi.
“Kenapa, San? Kamu udah gak ada lagi rasa yang sama dengan aku?” tanyanya dengan wajah kecewa.
“Aku gak mau kalau kita saling memiliki, kita masih muda. Kalau kita pacaran, lalu putus. Semua berakhir, Lun. Aku gak mau berpisah dengan kamu secepat itu,” kataku mencoba menjelaskan.
“Kamu harus tau, tanpa harus berpacaran pun, aku sayang, bahkan aku cinta sama kamu, Lun,” lanjutku.
“Baik kalau kamu maunya seperti itu, kamu juga harus tau, aku juga sayang sama kamu, cinta sama kamu, kita gak perlu pacaran,” balasnya.
Fine, kita tau sama tau, masalah kita clear. Aku harap kita gak lagi bertanya-tanya atau cemburu atau yang lain-lainnya karena kita sudah saling mengenal. Kamu siap jaga perasaan kita?” tanyaku padanya.
“Tentu saja,” katanya dengan mantap. Kemudian aku memeluknya dengan erat, setelah itu kurapikan rambutnya yang sedari tadi berantakan. Tak kubayangkan malam ini akan menjadi seperti ini. Malam ini amat memorable bagiku.

Lalu paman pun keluar dari tempatnya dan menemui kami, “Gimana udah beres? Paman buatin kalian sesuatu yang hangat aja ya, cuaca lagi dingin-dinginnya ini.”
“Terserah apa aja, paman,” kataku.

***
Pertemanan kami sekarang sudah aman. Bibo dan Kimmy tak ada masalah denganku lagi. Adam kembali seperti dulu, ia terbuka padaku dan ia juga sering menceritakan kenalan barunya, kuharap ia kali ini menemukan yang terbaik. Hubungannya dengan Luna pun sudah akur, mereka sudah berteman seperti biasa. Aku dan Luna juga kembali seperti dulu saat pertama kali kami bertemu. Bahkan sekarang semua terasa seperti sedia kala. Kami kadang merasa gugup jika sudah bersama. Kukira algoritma yang kupakai saat ini berjalan berulang-ulang. Inilah algoritma yang kuharapkan. Kami tidak memenuhi sebuah kondisi, jadinya kami hanya berada di situ-situ saja, kami tidak ingin proses ini end dalam waktu yang cepat. Untung saja ia mengerti maksudku. Sedangkan Fikri, aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya, tapi ia tak berubah sama sekali.
“Oke, udah pada siap, kan?” kata Bibo.
“Ayo putar, Bo!” kata Luna dengan antusias.
“Mutarnya lama banget,” kata Adam.
“Aaah, arahnya mau ke aku nih,” kata Kimmy dengan wajah cemas.
“Haaaaah!” semua berteriak saat botol yang diputar Bibo tadi berhenti ke arahku.
“Ayo, San, ambil pertanyaannya!” perintah Bibo padaku.

Kamudian aku mengambilnya dan membacakannya dengan tenang, “Truth or Drink, siapakah orang yang kamu cintai saat ini.” Kampret, seperti waktu itu saja, aku mendapat giliran pertama dan harus menjawab pertanyaan yang kubuat sendiri. Padahal pertanyaan ini untuk membuka rahasia Fikri.
“Idih, pertanyaannya sama banget kaya waktu itu, gue yakin lu pilih drink, kan?” kata Fikri dengan bersemangat untuk menyiapkan gelas untukku.
“Gak, gue pilih Luna,” kataku dengan tenang.

The End

Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment