Philophobia Chapter 4: Algoritma
PHILOPHOBIA
CHAPTER
4: ALGORITMA
Aldi
Reynaldi
Memikirkan kejadian tadi malam saja sangat membuatku badmood. Luna sudah bersama Adam,
sekarang apa lagi? Tidakkah aku menyadarinya selama ini? Yang kulakukan
seharusnya menjauhinya. Memang benar penyesalan selalu datang di akhir cerita.
Ia selalu saja hadir di kala logika kita dipermainkan. Apabila salah dalam
mengeksekusi suatu cerita, maka sesal lah yang akan menyelesaikan perkara.
Kini aku hanya terdiam saja di dalam kamar. Meskipun aku
sudah siap untuk berkuliah pagi ini. Tapi tetap saja, pikiranku ke mana-mana.
Akhirnya kembali seperti awalnya, aku hanya duduk diam di ranjangku yang empuk
ini. Alunan musik pun ikut membantuku untuk tetap tinggal di kamar ini. Tak
biasanya pula aku menyalakan musik di pagi ini. Playlist kali ini pun tak seperti ketika aku kasmaran dulu. Semua
yang terputar adalah lagu-lagu bernuansa patah hati. Hingga pada akhirnya aku
berada di bawah pengaruh salah satu lagu yang kuputar. Setelah mendengar dengan
cukup seksama, aku pun keheranan, bahkan aku tidak ingat jika pernah menyimpan
lagu seperti ini di playlist-ku.
Namun tiba-tiba kau ada
yang punya
Hati ini terluka
Sungguh ku kecewa,
ingin ku berkata
“Kasih maaf bila aku
jatuh cinta”
“Maaf bila saja kusuka saat
kau ada yang punya”
Haruskah kupendam rasa
ini saja?
Ataukah kuteruskan saja?
Hingga kau meninggalkannya
dan kita bersama
Tak lama, Revo kemudian mengetuk pintu kamarku. Seketika itu
pula suasana menjadi berubah. “Bang, Ibu manggil tuh, sarapan,” katanya dari
luar kamarku.
Tak seharusnya juga aku seperti ini. Hanya gara-gara seorang
gadis yang memabukkanku, aku malah mengabaikan kepentinganku sendiri. Bagiku kuliah
adalah prioritasku saat ini, aku tak ingin mengecewakan kedua orang tuaku.
Dengan terpaksa aku harus meninggalkan kamar yang kuanggap tempat meditasi
pribadiku ini. Ya, walaupun nafsuku saat ini hampir tak ada sama sekali untuk
memulai hariku. Tidak dengan sarapan, tidak juga dengan kuliah. Tidak ingin
rasanya aku bertemu dengan orang-orang hari ini.
***
Ibu telah menyiapkan sarapan seperti biasanya dengan senyum
di wajahnya. Hampir setiap hari kuperhatikan Ibu selalu menampilkan wajah yang
menyenangkan. Betapa bahagianya Ayah mendapatkan seorang wanita seperti Ibu.
Tak ada konflik di keluarga kami. Mereka berdua begitu serasi dan harmonis.
Apalagi Ayah pernah cerita jika mereka telah berpacaran semenjak di bangku SMA.
Bayangkan saja sudah berapa lama mereka terus seperti ini.
“Loh kok muka kamu gak fresh gitu, San? Kamu sakit?” kata
Ayah sembari membuka pembicaraan kami. Di setiap pertemuan kami di meja makan
ini, yang menjadi bahan pembicaraan pastilah selalu aku. Seperti tidak ada lagi
bahan yang ingin dibicarakan selain masalahku. Kursi ini pun sudah seperti
kursi panas saja. Pertanyaan demi pertanyaan yang bersifat privacy selalu ditanyakan Ayah, sedangkan Revo selalu bisa menerka
masalahku.
“Mm, just fine,”
kataku dengan datar.
“Ah masa, Ayah gak percaya ah, Revo gimana dengan teori kamu
kali ini?” tanya Ayah pada Revo. Kampret, ternyata mereka selama ini sudah
bersekongkol untuk menginterogasiku. Pantas saja tak ada bahan pembicaran lain
selain masalahku.
“Kalo dianalisis lebih dalam, raut wajah bang Ihsan agak
seperti capek. Capek yang dialami pun bukan kaya capek fisik. Tapi lebih ke
pikiran. Sebelum Revo ngetuk pintu kamar bang Ihsan pun udah kedengeran tuh,
lagu-lagu galau, Ayah udah bisa simpulkan?” kata Revo sambil mengoles rotinya
dengan selai kacang.
“Oalah, kamu putus dengan Luna?” tanya Ayah dengan sedikit
tertawa.
“Ihsan gak pernah pacaran dengan Luna,” kataku dengan sedikit
jengkel.
“Heh jadi selama ini kamu ngapain aja? Kok belom jadian aja?”
tanya Ayah. Oke, itu adalah pertanyaan ter-kampret yang pernah kudengar.
“Ayah??” kata Ibu sambil menggeleng ke arah Ayah, mimik Ibu
seperti menyuruh Ayah untuk menghentikan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Inilah
yang kusukai dengan Ibu. Ia mengertiku, baik perasaanku, kemauanku, serta
kebutuhanku. Tak seperti Ayah dan Revo yang selalu menyudutkanku.
***
Akhirnya aku telah sampai di kampus. Gara-gara terlalu lama
membuang waktu di rumah tadi, kali ini aku agak terlambat untuk memasuki kelas.
Ketika aku memasuki ruang kelas, kulihat hampir semua mahasiswa telah memenuhi
bangku yang tersedia di bagian depan. Tak apa lah, kupikir kali ini aku hanya
ingin sendiri dan tidak ingin berinteraksi dengan siapapun. Setelah melirik ke
mana-mana, akhirnya kuputuskan untuk duduk di bangku paling belakang, sendiri.
Sudah hampir bermenit-menit berlalu namun dosen yang
bersangkutan belum datang. Kelas terasa berbeda kali ini. Atas apa yang terjadi
pada kami beberapa hari lalu, semuanya berubah. Bibo yang biasanya mencairkan
suasana di kebosanan kami sekarang hanya terdiam di bangkunya, tak mengeluarkan
sepatah kata pun. Kimmy bahkan telah benar-benar melupakanku. Tak ada lagi
teriakannya yang sering dilakukannya setiap pagi. Adam dan Luna semakin lengket
saja. Mereka pun tak ada bereaksi terhadapku hari ini. Sedangkan Fikri tetaplah
menjadi dirinya yang pendiam ketika berada di keramaian.
Segera kupasang earphone
di smartphone-ku dan melanjutkan playlist yang tadi pagi terputus. Hingga
pada akhirnya sebuah lagu yang mengena itu terputar kembali. Kemudian aku
sengaja membesarkan volume suara smartphone-ku
untuk lari dari keramaian ini. Kucari
liriknya di internet dan pelan-pelan
kunyanyikan. Ternyata benar-benar seperti yang kurasakan saat ini. Bagaimana
bisa sebuah lagu sangat pas baik dari segi nuansa maupun lirik, semuanya
seperti sudah ditentukan saja untukku.
Kini aku benar-benar telah hanyut dalam suasana. Tak ada lagi
suara dari luar yang kudengar. Seperti aku sedang sendiri saja di kelas ini.
Lama aku menatap lirik ini dan bernyanyi seperti penyanyi aslinya. Namun di
tengah-tengah nyanyianku ini, aku juga keheranan mengapa sunyi sekali kali ini.
Kucoba menoleh ke depan dan melihat situasi sekarang. Oke, sekarang semua mata
mengarah padaku. Kubuka earphone yang
sedari tadi menempel di telangaku. “Apa?” tanyaku pada yang lain.
“Suara lu bagus juga San,” kata salah seorang temanku yang
berada di dekatku. “Lagunya juga,” lanjutnya lagi. Sh*t, kupikir aku telah memelankan suaraku, tapi malah sebaliknya.
Meskipun semua menatapku, namun Bibo dan Kimmy hanya terdiam saja tak berkutik
sama sekali. Kurasa mereka juga merasakan hal yang sama denganku, seperti efek
domino saja. Fikri terlihat heran melihatku dan wajahnya menampilkan mimik yang
sepertinya ingin bertanya padaku apa yang terjadi padaku saat ini. Kemudian
kugelengkan saja kepalaku untuk memastikan tak ada apa-apa. Lalu kulihat Luna,
ia kemudian membalas pandanganku dengan senyuman kecil di bibirnya, seperti
biasanya. Apa-apaan senyuman itu, itulah yang selalu ia bisa berikan padaku. Segera
saja kumalingkan wajahku darinya dan kembali kuputar playlist-ku, kini tanpa nyanyian dariku.
Tak lama kemudian dosen yang bersangkutan pun tiba, terpaksa
aku harus menghentikan aktivitasku dan bersiap menerima materi perkuliahan. Ia
kemudian terlihat tergesa-gesa mengeluarkan laptop-nya
dari tas yang keliatan sudah tua.
“Selamat pagi, semua. Maaf ya saya terlambat, saya ada
keperluan sebentar tadi,” katanya sambil memberikan lembar isian absensi ke
mahasiswa yang duduk paling depan.
“Ini sudah kali ke berapa kita belajar alpro?” tanyanya pada
mahasiswa.
“Baru sekali pak,” kata salah seorang mahasiswa.
“Oh iya berarti ini kali kedua ya, minggu lalu kita belum ada
masuk materi, ya. Jadi hari ini kita akan mempelajari dasar-dasarnya dulu aja,
ya yaitu mengenal apa itu algoritma dan apa itu pemrograman, lalu apa yang di
maksud dengan algoritma pemrograman,” katanya berusaha menjelaskan. Didengar
dari nama mata kuliahnya saja sudah membuatku berpikir bahwa mata kuliah ini gonna be tough.
Cukup lama ia menerangkan dasar-dasarnya pada kami.
Pembawaannya pun dalam mengajar sangatlah baik. Namun masih ada satu hal yang
mengganjal di pikiranku, yang ingin kutanyakan padanya.
“Ada yang ingin bertanya sebelum saya akhiri pertemuan kali
ini?” tanya Pak Gary pada kami.
“Pak,” kataku sambil mengangkat tangan tanganku.
“Ya?” tanyanya padaku.
“Fungsi algoritma ini seperti apa ya, pak?” tanyaku santai.
“Jadi gini, kita analogikan saja, misal kamu lagi in love degan seseorang, apa yang akan
kamu lakukan?” tanyanya balik padaku.
“PDKT, mungkin,” kataku spontan. Yang lain pun tertawa akan
jawabanku.
“Nah seperti itulah seharusnya. Jadi, algoritma itu berguna
dalam membuat suatu program agar lebih mudah dan efisien dalam hal peng-code-ingan. Kalo kasus kamu kan, misal
programnya PDKT, kalo dalam hal itu, step-by-step
dalam PDKT-lah yang menentukan keberhasilan kamu dalam membuat program.
Jika langkah-langkah yang kamu buat dalam program tepat, maka ending yang kamu inginkan dapat sesuai.
Sebaliknya, apa yang kamu inginkan malah tak sesuai dengan kehendakmu. Jika
saja ada suatu kondisi yang tidak diinginkan atau tidak tercapai, maka proses
akan melakukan pengulangan yang tiada henti hingga akhirnya berakhir. Satu
lagi, algoritma juga bertujuan untuk membuat solusi yang lebih cepat dan tidak
memberatkan sistem, istilah kerennya sih problem
solving. Nah lagi kalo contoh
kasus tadi, algoritma dapat membuat PDKT-mu menjadi tidak merepotkan kamu
sendiri,” katanya sambil tersenyum ke arahku. Boleh juga dosen ini, tahu saja
permasalahanku. Sekarang aku juga berpikir, apakah raut wajahku mudah sekali
terbaca? Dari tadi pagi hingga sekarang, hampir semua melihatku seperti aku
sedang ada masalah. Tapi tidak dengan Luna yang tetap memberikan senyuman
padaku, apa pun situasinya.
“Baiklah, ada pertanyaan lagi?” tanyanya lagi. “Tidak ada?
Baiklah kalo begitu kelas saya tutup. Sampai jumpa minggu depan,” katanya lalu
bergegas meninggalkan kelas.
***
Sore ini aku sedang berada di toko CD langgananku. Sudah lama sekali aku tidak memperbarui koleksiku.
Toko ini terletak agak jauh dari rumahku, jadinya jika pergi ke sini maka aku
akan memborong banyak CD sekaligus.
Tentu saja terlebih dahulu telah kucatat album-album apa saja yang akan kubeli.
Kali ini koleksi yang tersedia benar-benar sesuai dengan harapanku. Kali ini
koleksi yang ada benar-benar sesuai dengan harapanku. Hampir semua yang ingin
kubeli ternyata ready stock. Sebelum
ke kasir untuk membayar, ada kebiasaan yang selalu kulakukan di sini. Tak ingin
kusia-siakan datang jauh-jauh ke sini, aku selalu menghabiskan waktu yang agak
lama berada di toko ini. Ya, mendengarkan musik lewat headphone yang disediakan pihak toko untuk album yang ingin kita
beli. Karyawan toko pun sudah hapal sekali akan kebiasaanku ini, mereka pun tak
mempermasalahkannya, toh aku juga
pelanggan setia di sini.
Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam, akhirnya aku telah
membeli dan mendapatkan CD yang
kuincar. Aku keluar dari toko ini dan berjalan pergi ke destinasiku berikutnya,
sebuah kafe milik pamanku yang tak jauh dari sini. Aku biasanya ke sana untuk
menceritakan masalahku dengan paman. Ia adalah orang yang pandai memberikan
solusi. Namun akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dan tak memiliki kesempatan
untuk mengunjunginya. Kukira baru hari ini saja aku bisa free dari terpaan pekerjaan di kampus.
Sore ini begitu tenang, tak banyak orang berlalu lalang di
jalanan menggunakan kendaraannya. Letaknya yang agak jauh dari keramaian
mungkin yang menyebabkannya seperti ini. Berjalan dengan santai, tidak butuh
waktu yang lama untuk aku menemukan kafe pamanku. Kafe ini begitu hangat,
suasananya pun seperti sedang bukan berada di kotaku saja. Setibanya di sana,
tiba-tiba aku melihat Luna. Aku pun heran karena daerah ini cukup jauh dari
tempat kami, bagaimana bisa ia ke sini, aku yakin Adam pun pasti jarang pergi
ke sini. Setelah kulihat dengan seksama, ternyata Luna bersama seorang pria yang
aku pun tidak mengenalnya, ia bukan Adam. Gawat, bisa ketahuan kalau Luna
melihatku. Aku sudah memutuskan untuk menjauhinya mulai saat ini. Aku tak ingin
lagi berhubungan dengannya. Cepat-cepat kubalikkan tubuhku membelakanginya
berharap ia tak melihatku.
Namun aku tak cukup pandai ber-acting. Aku lupa jika aku mengenakan tas yang sering kupakai ke
kampus. Tentu saja ia akan mengenaliku.
“Ihsan? Kamu mau ke sini?” tanya Luna menghampiriku.
“Eh, gak, kebetulan lewat aja,” kataku berusaha tidak menatap
wajahnya.
“Sayang, dia siapa?” tanya pria di sampingnya yang sedari
tadi bersamanya. Sayang? Luna selama ini punya pacar? Wajahku pun seketika
berubah.
“Ini Ihsan, teman aku,” kata Luna ke pria tersebut. Teman,
ya, aku lupa, friendzone.
“Kita mau ke kafe ini lho, mau gabung gak?” tanya Luna
padaku.
“Oh gak, aku mau pergi ke toko CD di dekat sini,” kataku segera meninggalkan mereka.
Kukira ia dengan Adam selama ini berpacaran, kecurigaanku
ternyata salah. Bahkan ada lagi seseorang yang memanggilnya dengan panggilan
sayang. Sekarang aku malah berpikir apakah ia benar tak berpacaran tapi
menjalin hubungan dengan pria tadi atau ia memang seorang playgirl. Semua tentang Luna begitu misterius. Semenjak aku
mengenalnya, hampir tak bisa aku membaca apa yang ia pikirkan. Di balik itu
semua aku pun merasa agak tenang. Jika Adam tahu akan hal ini, kupikir ia akan
hancur. Gadis yang selama ini bersamanya ternyata dimiliki oleh orang lain
tanpa sepengetahuannya.
***
Beberapa minggu telah berlalu semenjak tragedi yang menimpa
kami terjadi. Sudah hilang juga komunikasiku dengan keempat temanku, Bibo,
Kimmy, Adam, dan tentu saja Luna. Aku pun perlahan sudah bisa melupakan Luna.
Hanya Fikri lah saja yang menjadi teman bicaraku sekarang. Beberapa hari
terakhir kami jadi sering bersama jika ada sesuatu. Sampai pada akhirnya ia
mengajakku ke festival malam ini. Tak ada salahnya pergi ke festival bersama
dengan teman, apalagi sekarang sudah memasuki masa liburan perkuliahanku. Aku
tak menghiraukan waktu yang kuhabiskan di pagi atau pun malam hari. Semua waktu
liburanku ingin kuhabiskan dengan melakukan banyak aktivitas alih-alih untuk
melupakan semua masalahku.
Festival ini ternyata tak begitu jauh dari kafe Fikri. Di
sana terdapat banyak sekali stand
yang menjual berbagai barang-barang keren, makanan-makanan tradisional hingga
internasional, permainan-permainan, dan hal-hal aneh lainnya seperti perlombaan
menjadi patung. Festival ini memang dibuka pada malam hari dan hanya dilakukan
setahun sekali, mungkin juga untuk memperingati hari kelahiran kotaku.
Gila, ramai sekali di sini. Orang dewasa, anak-anak, tak
ketinggalan muda-mudi pun memenuhi festival ini. Fikri lalu meninggalkanku di
keramaian ini. Ia lalu menuju ke salah satu stand.
Mungkin ia menginginkanku untuk mengeksplor tempat ini sendirian. Mungkin ia
berpikir dengan begitu aku merasa tak terkekang berada di dekatnya terus,
begitu pun sebaliknya dengannya. Akhirnya aku berhenti di salah satu stand makanan Jepang. Lalu aku membeli
sekotak takoyaki dan kemudian pergi menuju
tempat yang tidak begitu ramai.
Aku berputar-putar mencari tempat yang pas untuk memakan takoyaki-ku. Sejauh mata memandang, yang
kulihat manusia di mana-mana. Akhirnya aku mencoba berjalan menuju stand-stand yang cukup sepi. Aku pikir
semakin sepi area di sekitar stand,
maka aku akan menemukan jalan menuju ke tempat yang lebih sunyi. Benar saja,
aku menemukan sebuah taman yang hanya diisi dengan beberapa orang saja.
Aku duduk di salah satu bangku yang disediakan di sana.
Kuperhatikan disekitarku, agak aneh aku melihat pemandangan ini. Kiri dan
kananku semuanya berpasangan baik orang dewasa atau pun anak kecil. Setelah aku
melihat nama taman ini, ternyata ini Taman Cinta. Kampret, aku salah masuk
area. Pantas saja sunyi begini, yang lain saja sibuk dengan pasangan mereka
sendiri-sendiri. Tak kupedulikan keadaan sekitar, aku akan tetap menikmati makananku
di sini. Baru saja aku menyunyah satu takoyaki-ku,
aku melihat Bibo dan Kimmy berjalan masuk ke taman ini.
Setelah lama tidak berjumpa semasa liburan, tak kusangka
mereka sudah bersama. Aku pikir mereka akan mengabaikanku seperti biasanya.
Ternyata tidak, mereka menghampiriku.
“IHSAAAAN!!” teriak Kimmy padaku seperti dulu. Hah? Apa aku
tidak salah dengar? Ia meneriaki lagi? Kupikir hubunganku dengannya sudah tak
baik lagi.
“Ui, San,” sapa Bibo kemudian.
“Eh, kalian?” tanyaku sambil mengunyah takoyaki-ku.
“Aku minta maaf, ya, San atas yang aku lakuin ke kamu selama
ini,” lanjut Kimmy.
“Gue juga minta maaf, San. Gak seharusnya gue nyuekin lu,”
timpal Bibo.
“Heh?” aku semakin kebingungan melihat mereka.
“Eh iya, kami baru jadian lho,” kata Bibo padaku.
“Heh?” aku terkejut sampai ingin tersedak.
“Hahaha, kami ke sana dulu, ya, San,” kata Kimmy sambil
menarik Bibo menuju ke arah lain di taman ini.
Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka belakangan ini.
Raut wajah mereka kelihatan bahagia sekali. Yang penting aku bersyukur bahwa Kimmy
sudah bersama dengan Bibo. Mereka kelihatan saling mencintai, mereka layak
seperti itu. Dengan begini, hubungan kami bertiga pun sudah tak ada kekeliruan
lagi. Tapi tetap saja agak awkward berada
di taman ini jika sedang single.
Setelah menghabiskan makananku, aku keluar dari tempat ini.
Lalu aku berjalan menuju sisi yang lainnya. Meskipun festival ini cukup ramai,
tapi aku tetap merasa jika aku hanya sendiri di sini. Semua yang kulihat tak
ada yang menarik perhatianku di sini. Hingga saatnya muncullah salah satu orang
yang berhasil menarik perhatianku, Luna.
Sudah lama aku tak bertemu dengannya. Ia tetap saja cantik
seperti biasanya. Kulihat pula Adam di dekatnya. Ia membelikan banyak sekali
barang-barang untuk Luna. Kemudian mereka menuju bangku yang terletak di antar
dua buah stand.
Daripada tidak ada yang kulakukan di sini, lebih baik aku
nge-stalk mereka dari belakang, pikirku.
Aku pun mengendap-ngendap berjalan menuju ke arah mereka, tentu saja lewat
belakang. Semua kulakukan dengan hati-hati agar mereka tak melihatku. Sudah
seperti pencuri saja tingkahku saat ini. Cukup memakan waktu juga untuk
menghampiri mereka. Untunglah mereka belum pergi dari tempat ini. Dari belakang
salah satu stand, aku segera memasang
telingaku untuk mendengar pembicaraan mereka.
“Kamu mau kan? Kita balikan..,” kata Adam pada Luna sambil
memegang tangannya.
“Mmmm, ya…,” kata Luna yang terdengar sedikit ragu.
Sekarang aku menyesal mengendap-ngendap untuk mendengarkan
pembicaraan mereka. Bukan hal seperti itu yang ingin kudengarkan di pembicaraan
mereka. Tapi tunggu, balikan? Berarti sebelumnya mereka sudah pacaran tapi
mereka sudah putus juga. Wajar saja Adam selalu mendekati Luna, ternyata mereka
pernah berpacaran dulu. Dan selama ini yang menjadi pacar Luna adalah pria yang
kulihat di kafe waktu itu. Heh? Aku semakin bingung saja, berarti belum lama
ini juga Luna putus dengan pria yang waktu itu. Aku pikir Luna adalah sosok
yang aneh bagiku. Hubungannya dengan banyak pria sangatlah membuatku illfeel. Jika dikronologikan, ia mungkin
semasa SMA dulu bersama Adam, lalu mungkin menjalin dengan pria yang di kafe
waktu itu, selama kuliah kami mungkin berusaha untuk berdekatan namun Adam juga
mendekatinya lagi, namun ia masih tetap berpacaran dengan pria tersebut. Semua
terlhat complicated bagiku. Kupikir
ia sedang berselingkuh, kurasa aku tak perlu lagi mendekatinya, gadis yang
kukagumi waktu itu.
***
Semester baru di mulai. Aku menemukan kembali semangatku
seperti dulu. Aku sudah memantapkan diriku untuk tak terpengaruh dengan hal
cinta-cintaan. Kimmy dan Bibo sudah bersama. Sedangkan Adam dan Luna, aku tak
peduli lagi dengan hubungan mereka. Fikri tetap dengan kelakuannya meskipun
kami sudah naik semester. Ini benar-benar seperti brand new day.
Setiap kali kami berkumpul, tidak lagi aku memerhatikan Luna.
Aku sudah benar-benar cuek bebek dengannya. Tak lagi aku terkagum-kagum dengan
keindahannya. Gadis yang kukenal ternyata tidak sesuai dengan harapanku. Semua
kelakuan dan perbuatannya sangat tidak menyenangkan bagiku. Bagaimana jika aku
yang sekarang bersamanya? Mungkin hubunganku pun akan dikhianatinya.
Tapi yang kulihat saat ini Adam dan Luna tak selengket
seperti biasanya. Gelagat mereka pun kali ini berbeda. Aku pikir mereka sedang
ada masalah. Apa pun itu masalahnya yang penting aku tidak ikut campur urusan
mereka dan aku sama sekali tidak tertarik untuk mengetahuinya. Jika mereka
bertengkar hingga putus pun aku tidak peduli lagi dengan mereka. Sudah hampir
tak pernah lagi aku dan Adam berbicara. Kuyakin Adam sudah mengetahui arahku
selama ini, ia tentu tak ingin aku menjadi saingannya. Sedangkan Luna, she’s not takin’ any part in my heart again.
***
Malam ini ingin rasanya aku menghabiskan waktuku di kafe
paman, hanya sekedar cerita-cerita saja tentang masalahku yang lalu agar lebih
lega. Besok juga hari minggu, tak ada salahnya aku ke sana sekaligus bersantai.
Jika aku pergi ke sana meskipun malam-malam seperti ini, kedua orang tuaku
tentu tidak khawatir karena tujuanku adalah tempat keluargaku sendiri. Segera
saja aku pamit dengan kedua orang tuaku dan keluar. Sesaat setelah menutup
pintu rumah, kulihat daun-daun mulai berguguran di sekitar depan rumahku.
Anginnya bertiup amat kencang sekali malam ini. Kupikir aku harus kembali masuk
ke rumah untuk mengambil jaket kulitku.
Butuh waktu sekitar empat puluh menitan untuk sampai di sana.
Setibanya di sana ternyata kafe paman telah tutup. Aku pun heran padahal
sekarang baru pukul setengah sebelas. Biasanya kafe ini tutup hingga larut
malam, bahkan pernah sampai jam tiga subuh. Segera kuparkirkan motorku di dekat
salah satu motor lainnya. Aku melangkah kafe paman dan mulai mengetuk pintu.
Setelah lama aku mengetuk, seseorang kemudian membuka
berbicara di balik pintu, “kafe udah tutup.” “Paman, ini aku,” balasku padanya.
Tak lama ia pun membuka pintunya dan melihatku. “Eh, kamu, San. Ayo masuk
dulu,” kata paman. Setelah aku masuk ke dalam, ternyata ada seorang wanita yang
duduk seperti sedang depresi.
“Paman, siapa dia?” tanyaku penasaran.
“Biasa, client,”
kata paman. Memang benar pamanku ini sudah seperti psikolog saja, semua keluhan
yang biasa aku rasakan, jika aku bercerita dengannya maka berbagai solusi akan
diberikannya untukku. Untuk itulah aku ke sini.
“Paman masuk dulu sebentar, kamu temenin cewe yang di sana
dulu gih,” katanya.
Aku kemudian melangkah mendekatinya, lalu aku tarik kursi di
sampingnya dan duduk agak jauh darinya. Ia tampak tak bergairah sekali.
Wajahnya ditempelkan ke meja, aku tak bisa melihatnya. Rambutnya kusut,
acak-acakan, seperti orang yang sudah tak terurus sama sekali. Orang seperti
ini berkonsultasi dengan paman seperti ini, sudah jelas ia memiliki masalah
yang lebih besar daripada masalahku.
Paman kemudian datang membawa beberapa gelas yang
kelihatannya baru selesai dicuci.
“Kamu minum yang kaya biasa, San?” tanya paman padaku.
Saat paman bertanya padaku, wanita di sampingku ini pun
seketika bereaksi. Ia bangun dari keadaannya sekarang lalu menoleh ke arah
paman.
“San?” tanyanya pada paman.
“Oh maaf, saya ngomong dengan ponakan saya,” kata paman pada
wanita di sampingku ini.
Wanita aneh ini pun kemudian menoleh ke arahku. W-T-F-! Dia adalah Luna. Ia begitu kacau, wajahnya, wambutnya, bahkan aku
sampai tidak mengenalinya.
“Ihsan?” Luna keheranan melihat kehadiranku di sini.
“Luna?” tanyaku dengan lebih keheranan lagi dengan apa yang
terjadi dengannya.
“Kalian udah saling kenal?” tanya paman.
“Dia lah yang kuceritakan selama ini om,” kata Luna pada
pamanku.
“Heh cerita apa aja Luna ke paman?” tanyaku pada paman.
“Oke, paman rasa karena kalian ingin berkonsultasi dengan
paman tentang masalah yang sama. Lebih baik kalian omongkan sendiri masalah
kalian biar lebih clear,” kata paman
sambil meletakkan kembali gelasnya.
“Tapi paman..,” kataku.
“Cara ini jauh lebih baik, paman tinggalkan kalian sendirian
di sini,” kata paman lalu melangkah masuk ke dalam.
Suasana ini persis sekali seperti yang kualami di bawah pohon
apel waktu lalu. Aku tau kami akan saling bertukar pikiran kali ini. Ingin
sekali aku meluapkan semua tapi tetap saja aku tak bisa. Pada akhirnya kami
hanya terdiam di sini.
Hampir sepuluh menit kami tak bersuara. Lalu kemudian kuliaht
Luna mulai bergerak. Mungkin sudah tak tahan, kemudian Luna mulai berbicara
padaku, “San, kamu kenapa sih akhir-akhir ini ngejauhin aku?” tanyanya dengan
nada agak kasar.
“Sudah seharusnya, kan?” tanyaku balik ke dia.
“Kamu tega dengan aku, San, kamu gak liat aku sekarang kaya
gimana?” tanyanya lagi.
“Untuk apa? Kamu jangan suka sandiwara deh,” balasku pedas.
“Sandiwara apa?” tanyanya dengan dengan agak kecewa.
“Ah jangan pura-pura lah, kamu sering gonta-ganti cowo, kan?
Lalu kamu pura-pura seperti ini supaya aku iba ke kamu, aku muak Lun, aku muak
dengan tingkah kamu,” kataku.
Suasana di luar kafe pun semakin menjadi-jadi, angin semakin
ribut seperti ikut campur dalam percekcokan kami.
“Cowo siapa? Yang mana? Aku gak ngerti apa yang kamu maksud!”
katanya.
“Cowo yang waktu itu di sini, sore waktu itu,” kataku.
“Gini, dia memang pacarku dulu, tapi kami ke sini bukan nge-date. Kami cuma mau ngomongin soal
hubungan kami. Kami sama-sama mau putus dengan cara damai. Dia telah nemuin
yang baru, begitu juga aku,” kilahnya.
“Nemuin yang baru, siapa? Hmm Adam, kan? siapa lagi? Mantan
kamu yang paling kamu sayangi itu,” ketusku.
“Jangan sebut-sebut nama dia lagi!” katanya dengan nada yang
cukup tinggi.
“Kenapa? Kamu dan Adam berpacaran, kan? Mengapa harus
galau-galau segala,” kataku.
Suasana semakin memanas, kepalaku pun serasa ingin meledak
dibuatnya.
Luna kemudian bergegas dan berdiri di sampingku.
“Aku gak cinta sama dia,” kata Luna mencoba menjelaskan.
Aku kemudian pun berdiri dan menatapnya.
“Kalau kamu gak cinta, kenapa kamu terima lagi dia saat festival
malam itu?” tanyaku dengan sedikit emosi.
“Kenapa kamu gak bilang ke aku dulu sebelum dia?” tanyanya
lagi dengan emosi yang sama denganku.
Kemudian suara petir menggelegar, mengisi suasana
pertengkaran kami.
“Bagaimana aku mau bilang, kamu selalu berada dengan banyak
cowo!!” kataku dengan penuh emosi.
“Cowo yang mana lagi maksud kamu??!!” tanyanya dengan semakin
marah.
“Ya banyak lah!! Cowo yang di kafe ini, Adam, Fikri, semua
cowo kamu embat!!!” kataku dengan amarah meluap-luap.
“Aku tadi sudah bilang kan? Aku sudah putus dengannya. Lalu
Adam, aku gak cinta dengannya. Aku terpaksa nerima karena mungkin dengan
balikan dengannya aku bisa ngelupain kamu. Tapi gak, kami juga sudah putus, aku
gak tahan dengan dia. Lalu Fikri, dia cuma mata-mata aku aja, aku selalu
mendapatkan info tentang kamu darinya,” katanya pelan.
“Kamu gunain Fikri buat ngawasin aku? Buat apa? Kamu bukan
siapa-siapa aku!!” kataku penuh amarah hingga seisi ruangan ini bergema.
Kami kemudian terdiam sejenak, Luna memalingkan wajahnya dan
ia mulai menitikkan air mata.
“Aku tuh cinta sama kamu San!!” teriaknya lagi.
“Aku juga!!!” teriakku.
Suara petir kembali terdengar lalu hujan pun turun di
saat-saat seperti ini. Mata kami kemudian saling bertemu. Desahan napas kami
pun terdengar. Terlalu banyak emosi yang kami keluarkan saat ini. Sekarang kami
terdiam lagi berusaha mengatur napas kami. Kemudian Luna lebih mendekat dan ia
memelukku.
“Kau pikir aku gak cemburu kalo Kimmy peluk-peluk kamu kaya
gini,” katanya pelan.
“Udah cukup lama aku nungguin kamu, tapi kamu gak pernah
dateng lagi, San. Dateng ke hati aku,” katanya lirih.
“Walau kau pikir aku dekat dengan Adam, bukan berarti aku
cinta atau sayang dengannya. Hati aku udah aku simpan buat kamu, hanya kamu,”
katanya lagi.
Sekarang aku sudah benar-benar cukup lega. Lalu kucoba
lepaskan pelukannya lagi.
“Kamu tau betapa sakitnya aku ketika melihat kamu selalu
bersama cowo-cowo yang lain? Kamu seharusnya jadi milik aku, bukan mereka,”
kataku sambil memegang kedua bahunya.
“Sekarang kamu udah dapetin aku, San,” katanya lagi.
“Gak, aku gak mau milikin kamu,” kataku lagi.
“Kenapa, San? Kamu udah gak ada lagi rasa yang sama dengan
aku?” tanyanya dengan wajah kecewa.
“Aku gak mau kalau kita saling memiliki, kita masih muda.
Kalau kita pacaran, lalu putus. Semua berakhir, Lun. Aku gak mau berpisah
dengan kamu secepat itu,” kataku mencoba menjelaskan.
“Kamu harus tau, tanpa harus berpacaran pun, aku sayang,
bahkan aku cinta sama kamu, Lun,” lanjutku.
“Baik kalau kamu maunya seperti itu, kamu juga harus tau, aku
juga sayang sama kamu, cinta sama kamu, kita gak perlu pacaran,” balasnya.
“Fine, kita tau
sama tau, masalah kita clear. Aku
harap kita gak lagi bertanya-tanya atau cemburu atau yang lain-lainnya karena
kita sudah saling mengenal. Kamu siap jaga perasaan kita?” tanyaku padanya.
“Tentu saja,” katanya dengan mantap. Kemudian aku memeluknya
dengan erat, setelah itu kurapikan rambutnya yang sedari tadi berantakan. Tak
kubayangkan malam ini akan menjadi seperti ini. Malam ini amat memorable bagiku.
Lalu paman pun keluar dari tempatnya dan menemui kami, “Gimana
udah beres? Paman buatin kalian sesuatu yang hangat aja ya, cuaca lagi
dingin-dinginnya ini.”
“Terserah apa aja, paman,” kataku.
***
Pertemanan kami sekarang sudah aman. Bibo dan Kimmy tak ada
masalah denganku lagi. Adam kembali seperti dulu, ia terbuka padaku dan ia juga
sering menceritakan kenalan barunya, kuharap ia kali ini menemukan yang
terbaik. Hubungannya dengan Luna pun sudah akur, mereka sudah berteman seperti
biasa. Aku dan Luna juga kembali seperti dulu saat pertama kali kami bertemu. Bahkan
sekarang semua terasa seperti sedia kala. Kami kadang merasa gugup jika sudah
bersama. Kukira algoritma yang kupakai saat ini berjalan berulang-ulang. Inilah
algoritma yang kuharapkan. Kami tidak memenuhi sebuah kondisi, jadinya kami
hanya berada di situ-situ saja, kami tidak ingin proses ini end dalam waktu yang cepat. Untung saja
ia mengerti maksudku. Sedangkan Fikri, aku tidak tahu apa yang ada di
pikirannya, tapi ia tak berubah sama sekali.
“Oke, udah pada siap, kan?” kata Bibo.
“Ayo putar, Bo!” kata Luna dengan antusias.
“Mutarnya lama banget,” kata Adam.
“Aaah, arahnya mau ke aku nih,” kata Kimmy dengan wajah
cemas.
“Haaaaah!” semua berteriak saat botol yang diputar Bibo tadi
berhenti ke arahku.
“Ayo, San, ambil pertanyaannya!” perintah Bibo padaku.
Kamudian aku mengambilnya dan membacakannya dengan tenang, “Truth or Drink, siapakah orang yang kamu
cintai saat ini.” Kampret, seperti waktu itu saja, aku mendapat giliran pertama
dan harus menjawab pertanyaan yang kubuat sendiri. Padahal pertanyaan ini untuk
membuka rahasia Fikri.
“Idih, pertanyaannya sama banget kaya waktu itu, gue yakin lu
pilih drink, kan?” kata Fikri dengan
bersemangat untuk menyiapkan gelas untukku.
“Gak, gue pilih Luna,” kataku dengan tenang.
The End
0 comments:
Post a Comment