Philophobia Chapter 2: Statistika

PHILOPHOBIA
CHAPTER 2: STATISTIKA
Aldi Reynaldi

Pada perjalanan pulangku, sepertinya aku melupakan sesuatu yang penting. Sesuatu yang telah kujanjikan pada orang lain. Kucoba lagi mengingat peristiwa pada hari ini. Begitu banyak kejutan di hari pertamaku kuliah. Mulai dari bertemu dengan teman lama hingga mengenal gadis penuh pesona, Luna. Tapi tunggu, bukan itu yang penting. Setelah cukup lama berpikir akhirnya aku teringat. Oh iya, aku ada janji pada Ibu untuk membelikannya sapu yang baru. Ke sana kemari aku melirik toko-toko yang kelihatannya menjual perabotan rumah tangga, namun tak satupun ada toko yang memenuhi kriteria.

Semestinya aku bisa saja langsung ke supermarket langgananku, hanya saja rumahku sudah hampir dekat. Tidak mungkin lagi untuk memutar balik kendaraanku menuju ke sana. Akhirnya kuputuskan untuk mencari di sekitar sini saja. Kiri kanan tak ada jawaban. Setelah cukup lelah mencari, aku berhenti di salah satu kafe, sekadar untuk menghilangkan dahaga sejenak.

Kafe ini begitu aneh. Menurut yang kuketahui, kafe biasanya didesain dengan cozy, enak untuk bersantai, dan normal-normal saja. Bahkan aku berpikir, sepertinya kafe ini baru dibuka. Aku tidak pernah berkunjung ke tempat ini sebelumnya. Bagaimana tidak aneh, kafe ini didesain unik dengan peralatan-peralatan seperti di laboratorium kimia. Semua tempat makanan atau minuman menggunakan peralatan kimia. Hiasan interiornya juga menggambarkan unsur-unsur kimia. Hal ini mengingatkanku pula pada guru kimia killer di SMA dulu. Apalagi kumisnya yang begitu tebal menyeramkan, salah sedikit saja nilai dikenai -1.

Ketika melihat-lihat sekitar, tak lama seseorang pun datang menghampiriku dengan membawa daftar menu. “Ini daftar menunya, silakan dilihat-lihat dulu,” tawarnya.
“Oh iya, eh…,” kataku heran.
“Eh..,” katanya heran pula.
“Lu yang duduk di depan gue tadi kan? Di kelas?” tanyaku padanya.
“Iya, makanya gue sepertinya kenal. Soalnya gak asing, ehm, kenalin gue Fikri,” sapanya seraya berjabat tangan denganku.
“Gue Ihsan, oh iya lu kerja di sini?” tanyaku.
“Oh gak, gue ngegantiin sebentar karyawan yang gak bisa dateng. Btw ini kafe bokap gue, baru dibuka 4 bulan yang lalu, sih. Bokap gue guru kimia di SMA. Ya keliatan lah gimana desainnya,” katanya berbasa-basi. Lanjutnya lagi, “Lu lagi dari mana nih? Kok keliatannya capek banget?”
“Gara-gara nyari toko gak dapet-dapet akhirnya gue berhenti di sini dulu. Niatnya mau minum aja sih,” kataku.
“Toko? Di belakang kafe ini ada toko, ngejual perabotan rumah tangga gitu. Kebetulan toko pamanku juga, emangnya lagi nyari apa?” tanyanya.
Ah pas sekali aku singgah di kafe ini. Selain bertemu dengan teman baru. Aku juga tidak perlu kesusahan mencari toko-toko yang lain. Apalagi di belakang kafe ini terdapat toko perabotan rumah tangga. “Ya sebenarnya aku mencari sapu, aku ingin membelikan yang baru buat Ibuku,” kataku.
“Oh yaudah nanti kita ke toko belakang aja. Untuk hari ini lu boleh mesen minuman apa aja, gratis deh. Anggap aja ini hadiah dari gue,” tawarnya lagi.
“Baiklah jika lu maksa, gue sih terima aja haha,” kataku. Akhirnya kudapatkan keuntungan berlebih lagi di hari ini. Aku dapat minuman gratis, berteman dengan kenalan-kenalan baru, dan juga mendapatkan sapu untuk Ibuku.

***
Malam harinya aku sedang baring di kamar. Memutar musik-musik kesukaanku melalui wireless speaker. Hal ini rutin kulakukan, karena aku percaya musik dapat merilekskan diriku. Lagu demi lagu berganti, aku pun semakin hanyut dalam suasananya. Sudah lama aku tak pernah lagi merasakan hal ini. Mungkin saja aku sedang kasmaran, semua lagu tampak menyentuh hingga ke lubuk hati. Padahal, biasanya aku tidak akan gampang terpengaruh akan lirik-lirik bertemakan kasih. Sayangnya tidak kali ini.

Namun suasana ini tak bertahan lama semenjak suara gedoran pintu kamar dimulai. Ini pasti Revo yang melakukannya. Selalu saja mengganggu ketentramanku. “Ya tunggu sebentar,” kataku sambil mematikan musik-musikku.
“Ayah dan Ibu suruh turun, Ibu udah nyiapin makan malam,” kata Revo dengan wajah menjengkelkan seperti biasanya.
“Ya gue juga tahu udah saatnya makan malam, gak perlu lah lu naik ke atas gedor-gedor pintu,” kataku kesal.
“Yaelah gimana gak gedor-gedor kalo musiknya aja gede banget, bahkan bang Ihsan pun sendiri gak bakal dengar suara dari luar kamar, gak mau makan?” katanya seraya turun dari tangga.
Benar juga yang dikatakan Revo. Tidak biasanya aku memutar lagu-lagu bertema asmara dengan volume up. Sekarang aku percaya jika aku sedang kasmaran stadium satu. Tenggelam ke suasana yang membuatku terlena hingga mengabaikan sekitar. Jika bukan karena Revo, mungkin aku telah melewatkan makan malam. Siapa juga yang ingin melewatkan masakan Ibu. Lagipula masakan Ibuku adalah yang terbaik.

***
Malam ini Ibu memasak makanan kesukaanku. Ibu memasak semur ayam, cap cai, dan tak lupa pula sambal terasi. Ketiga kombinasi tersebut aku rasa begitu balanced di lidah. Tapi mungkin tidak balanced di perutku. Sebenarnya tidak ada masakan Ibuku yang tidak kusukai, namun ketiga inilah yang menurutku paling enak di antara yang lainnya.

Aku pun semacam kegirangan makan masakan Ibu kali ini, tidak seperti biasanya pula aku merasa sebahagia ini. Bukan berarti aku sudah lama tidak pernah makan. Hanya saja ada yang berbeda di hari ini.
“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri San?” tanya Ayah penasaran sembari mengambil beberapa potong bunga kol di masakan cap cai.
“Ah gak ada apa-apa kok, Ihsan suka aja Ibu hari ini masak makanan kesukaan Ihsan,” kataku sambil berusaha menormalkan raut wajahku yang aneh.
“Ya Ibu pikir, karena hari ini kamu baru masuk kuliah, tentunya ini hari yang spesial. Jadi Ibu sengaja buatkan masakan kesukaanmu,” ujar Ibu.
“Atau bang Ihsan lagi mikirin hal yang lain nih, dari tadi senyum-senyum sendiri. Tadi juga di kamar muter-muter lagu cinta-cintaan, apa-apaan,” celetuk Revo.
“Ayah rasa Ihsan tadi udah kenalan nih dengan cewe-cewe di sana, iya gak?” tanya Ayah.
Kampret, gampang sekali mereka menerka gelagat-gelagat anehku ini. Aku tidak berniat untuk menjelaskan apa yang terjadi padaku pagi ini. Aku juga tidak ingin menceritakan hubunganku dengan gadis yang kutemui tadi pagi. Karena menurutku Luna belumlah siapa-siapa bagiku. Baginya pun begitu. Jadi, tidak mesti aku ceritakan. Untuk apa juga kan?
“Loh kok diem aja sih? Berarti Ayah bener kan? Siapa namanya?” goda Ayah sambil menyelesaikan makanannya.
“Oke, Ihsan kasih clue aja, namanya merepresentasikan rembulan. Puas?” kataku untuk menutup-nutupi namanya. Aku pikir mereka akan sulit menerkanya kali ini. Mereka perlu mencari dulu informasi terkait rembulan atau bulan. Dengan ini aku kira aku bisa aman.
“Rembulan? Bulan? Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember?” tanya Revo.
“Bukan,” kataku tenang. Yang benar saja, Revo memikirkannya hingga sebegitunya. Bahkan akupun tidak pernah kepikiran ke sana.
“Neil Armstrong?” lanjutnya lagi. Oke, dia terlalu banyak mengkhayal. Lalu mengapa pula Neil Armstrong dibawa-bawa?
“Bercanda-bercanda, bulan, ini bukan tentang bulan pada kalender. Tapi lebih ke sesuatu yang feminim. Dari pertanyaan yang diajukan sebelumnya, bang Ihsan dengan tegas menjawabnya bukan. Kalau begitu pasti Luna, kan?” kata Revo.

Suasana menjadi sunyi ketika Revo menyebut nama Luna. Bagaimana bisa dia tahu secepat itu? Hanya dengan clue begitu saja dia telah bisa menerkanya. Terbuat dari apa otaknya itu? Ya meskipun aku juga mengakui kalau Revo adalah anak yang cerdas. Buktinya dia selalu juara kelas setiap tahunnya. Kurasa aku tidak akan lagi berurusan dengannya apalagi dalam hal pemikiran.
“Ihsan udah selesai, Ihsan ke atas dulu mau ngerjain tugas,” kataku sambil bergegas meninggalkan ruang makan, hal ini kulakukan tentunya untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan beruntun lainnya.

***
Pagi ini aku datang awal sekali ke kampus. Bukan karena rajin, tapi ingin cepat-cepat bertemu dengan Luna. Memikirkannya saja aku sudah tidak tahan. Setiap gadis yang lewat di depanku saja aku begitu antusias, meskipun itu bukan Luna-ku. Sampai-sampai yang lain berpikiran kalau aku termasuk ke dalam golongan orang-orang freak. “Ngapain lu liatin gue begitu, dasar freak!” kata salah satu gadis padaku.

Kalau dipikir-pikir dia ada benarnya, sih. Seorang pria duduk di depan ruang lab TI dan tersenyum setiap melihat gadis yang datang. Aku sepenuhnya menyetujui kalau apa yang kulakukan ini terbilang freak and weird. Jelas saja para gadis memasang ekspresi yang berbeda-beda ketika melihatku. Tapi tidak kupedulikan respon yang berbeda-beda itu. Aku tetap menunggu Luna-ku.

Cukup lama aku menunggunya di sini, apakah dia tidak ke kampus hari ini? Ini baru hari kedua dan dia memilih untuk terlambat atau tidak datang? Namun aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, jam perkuliahan pertama akan segera dimulai. Aku pun beranjak dan menuju ke ruang kelas.

Setibanya di ruang kelas, aku memerhatikan seisi ruang ini. Ada seorang mahasiswa yang cukup menarik perhatian semua mahasiswa di sini. Ia berbicara sangat keras dan mengganggu seisi ruang. Tertawa terbahak-bahak dan tak memedulikan keadaan sekitar. Ya ini terjadi ketika dosen belum memasuki ruang kelas. Tidak lama kemudian suara hentakan sepatu terdengar menuju ruang ini. Semua mahasiswa kembali ke posisi semestinya dan sopan. Tak disangka-sangka ternyata yang melangkah masuh adalah Fikri. Spontan mahasiswa yang ribut tadi mengejeknya, “Whoooo, liat si culun terlambat.” Fikri terlihat tak menanggapinya dan hanya melewatinya. Kemudian Ia duduk persis di depanku lagi seperti kemarin.
“Pagi Fik,” kataku padanya.
“Pagi San,” balasnya sambil bersiap-siap mengeluarkan buku catatan.
“Udah, lu gak usah ambil pusing soal dia,” kataku menenangkan Fikri.
“Gue juga udah biasa digituin semenjak SMA, Bibo sering banget usil. Bahkan hampir setiap hari,” lanjut Fikri mengutarakan unek-uneknya.

Sekarang terdengar lagi hentakan sepatu menuju ruang kelas ini. Kali ini aku yakin pasti dosen yang akan memasuki kelas ini, lihat saja sekarang sudah pukul 8.00. Kutoleh ke kiri dan ke kanan, seperti ada yang kurang. Astaga, aku baru sadar kalau Adam dan Luna belum datang. Kuraih smartphone di saku celanaku dan mencoba menelepon Adam. Belum sempat membuka menu kontak, bagai pepatah pucuk dicinta ulam pun tiba, Adam dan Luna pun tiba di ruang kelas ini. Syukurlah mereka masuk sebelum dosen datang.

Tak tinggal diam, Bibo pun kembali beraksi menghampiri mereka.
“Cie, telat nih yeee, si cantik kok telat sih?” tanya Bibo dengan menggoda Luna.
“Bukan urusan lu yang jelas,” tambah Adam.
“Eh lu santai aja dong bro, gue kan nanyanya ke si cantik ini, nama kamu siapa sayang?” tanya Bibo lagi. Luna tak menjawabnya namun ia membalasnya dengan senyum kecil di bibirnya. Astaga, hanya tersenyum begitu pun kecantikannya naik seratus persen.
“Kamu jadi pacar aku aja ya cantik,” lanjut Bibo menggoda.
“Namanya Luna, oke, minggir lu,” sergah Adam. Mereka pun menuju ke arah kursi kosong di sebelahku.

Gila, Bibo dengan mudahnya bicara seperti itu di depan mahasiswa yang lain. Kelas pun seketika gaduh menyoraki Bibo. Aku terima jika Luna cantik, Bibo benar dalam hal ini. Tapi tetap saja aku tidak terima atas perbuatan Bibo terhadap Luna. Ia seperti menakut-nakuti Luna dengan tingkah-tingkah konyolnya.
“Hei, San,” bisik Fikri padaku.
“Kenapa Fik?” tanyaku.
“Cewe yang namanya Luna itu, sepertinya gue tertarik padanya,” bisiknya padaku.

Aku seketika terdiam, mencoba menelaah kembali apa yang tadi dikatakan Fikri. Kucoba meyakinkan diri bahwa hanya akulah yang saat ini berusaha melakukan pendekatan dengan Luna. Ya hanya aku. Kemudian aku sadar, aku tak bisa membohongi diri kalau Bibo baru saja menggodanya. Bahkan Fikri juga menyatakan kalau ia tertarik pada Luna. Bolehkah kukatakan mereka adalah rival?

***
Parah, dosen yang bersangkutan tidak datang pada pertemuan perdananya pagi ini. Aku juga heran, apakah dosen bisa seenaknya absen seperti itu? Tidak tahukah dia bahwa perkuliahan sudah dimulai? Jika seperti ini, bukan tidak mungkin para mahasiswa hanya mendapatkan suatu ketidakpastian. Lumayan juga waktu yang terbuang hanya untuknya.

Terdengar lagi suara hentakan sepatu menuju ke arah ruang kelas ini. Jangan katakan kalau dosen tersebut baru datang jam segini. Dugaanku salah lagi, ternyata yang datang kali ini adalah…
“IHSAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN!!!” teriak seorang gadis yang baru memasuki ruang kelas dengan riangnya. Ah sh*t, perasaanku sangat tidak enak akan hal ini. Sepertinya aku kenal dengan jenis teriakan seperti ini. Tak kusangka pula ternyata ia berkuliah di jurusan yang sama denganku. Oh tidak, mengapa harus ada dia lagi, di hidupku.

“AAAAAH IHSAAAAAAAAANNN!!!” teriaknya lagi ketika berhasil melihatku dari kejauhan. Tak ingin membuang waku, ia langsung mengejarku dan mencoba memelukku. Untung saja kursi ini didesain tidak seperti kursi-kursi di SMA dulu. Hal ini menguntungkanku dari sergapan gadis maniak ini. yang menjengkelkan adalah ia mulai mengejarku sejak dari SMP, pada saat memasuki SMA pun ia mendaftar di SMA yang sama denganku, bahkan kini pun aku tidak sadar kalau ia masih menargetkanku sebagai buronannya dari tahun ke tahun.

“Sudah, sudah hentikan Kim,” perintahku pelan pada gadis maniak ini.
“Kita sudah lama gak ketemu San, kamu gak kangen sama aku? Aku aja kangen banget sama senyum kamu,” kata Kimmy dengan centilnya yang berlebihan. Lalu ia mencubit pipiku. Menariknya ke kiri dan ke kanan.

Sebenarnya Kimmy adalah gadis yang cukup lucu dan cantik, hanya saja sikapnya kurang aku sukai. Kadang tingkah lakunya terlalu berlebihan padaku. Semua yang ia lakukan selama ini padaku hanya membuatku malu saja di depan umum. Ia memperlakukan aku bagaikan raja, majikan, seorang pasangan, mungkin baginya aku adalah pacarnya.
“Kimmy? Hei apa kabar?” tanya Adam padanya.
“Adam!! Aku baik-baik aja, aku gak tau kamu kuliah di sini juga, seperti reuni aja ya, kan?” tanya Kimmy dengan bersemangat seperti biasanya.
“Ah lu mah, mau reuni kek mau gak kek, kalo ketemu Ihsan udah kaya reuni aja,” ujar Adam.
“Ihsan kangeeennn,” kata Kimmy berusaha memelukku lagi. Aku tak berdaya kalau Kimmy sudah mencoba memelukku. Mendorongnya secara paksa saja aku tidak berani. Bukannya aku ingin dipeluk atau apa, hanya saja aku berusaha untuk tidak menyakitinya. Keadaan seperti ini jadi semakin sering dilakukannya melihat tak ada perlawanan yang berarti dariku. Kimmy memelukku dengan erat. 

Kucoba toleh ke arah Luna. Wajahnya kebingungan akan sikap Kimmy padaku. Wajahku bahkan lebih kebingungan lagi melihat wajah Luna yang kebingungan. Fikri yang sebelumnya berbicara padaku, Adam, dan Luna sekarang memalingkan wajahnya ke arah yang lain. Mungkin ia tidak ingin melihat hal-hal awkward ini. Bibo pun tak tinggal diam, ia pun menghampiriku, “Nice catch, Ihsan? Gue pikir gue harus banyak belajar dari lu.”
“Ini bukan kemauan gue kok,” kataku padanya. “Oh iya Kim, kemaren udah ada tugas kelompok maksimal tiga orang per kelompok, kamu gak ada kelompok kan?” kataku pada Kimmy yang masih asyik memelukku.
“Eh gue juga belom ada kelompok nih,” sambung Bibo.
“Yaudah aku boleh ya sekelompok dengan kamu, nama kamu siapa?” tanya Kimmy pada Bibo. Thank God, Kimmy telah melepaskan pelukannya. Seperti aku bisa bernapas dengan lega rasanya.
“Panggil aja gue Bibo,” katanya. “Oh Bibo, namamu lucu juga, kenalkan aku Kimmy,” sapa Kimmy pada Bibo.

Baguslah kalau Kimmy sudah memiliki kelompok. Aku juga bertanya pada Fikri, “Fik, lu udah punya kelompok, kan?”
Fikri menoleh ke belakang dan hanya menggeleng padaku. “Eh? Belum ada kelompok? Yaudah masuk ke kelompok Bibo-Kimmy aja,” kataku menyarankan padanya.
“Heh sekelompok dengan Bibo? Gak, aku gak mau,” ketus Fikri.
“Yeeh si culun ini udah ditawarin gak mau, lu mau gak dapet kelompok?” kata Bibo.
“Iya gak apa-apa! Ayo sekelompok dengan kami!” ajak Kimmy.
“Tapi kan Bibo sering usil ke gue, masa gue malah sekelompok dengannya?” tanya Fikri lagi.
“Eh gimana kalo besok kita ngerjain tugasnya di rumah aku aja? Sekalian rame-rame, kayanya seru deh,” tambah Luna di tengah percakapan kami.

Ide Luna bagus juga, aku sebenarnya setuju saja padanya. Dengan ini kita bisa makin dekat dengan masing-masing. Adam, Bibo, Kimmy, dan aku pun menyetujui tawaran Luna untuk mengerjakan tugas kelompok bersama-sama. Kebetulan pula besok kami dijadwalkan pulang awal. Tidak ada salahnya mengerjakan bersama-sama.

“Fik, kalo lu mau dateng yah dateng aja, kami masih nyediain tempat buat lu di kelompok. Kalo lu gak datang juga, mungkin kami nyari anggota yang lain,” kata Bibo pada Fikri. Pada saat seperti ini, Bibo berubah drastis seratus delapan puluh derajat. Hal konyol di awal perkuliahan yang ia lakukan sebelumnya tak tampak lagi. Ia bagaikan memiliki sifat ganda. Aku curiga ia hanya pencitraan saja di depan Luna. Namun aku tidak mau berpikiran yang buruk dulu tentang seseorang sebelum mengenalnya. Mungkin saja Fikri yang lebih mengenalnya, itu yang menyebabkan Fikri sulit mengambil keputusan.

***
Setibanya di rumah Luna, aku keheranan melihat kediaman ini. Rumah ini begitu megah bak istana. Dan kuyakin Luna adalah putri istana ini. Satpam keluar dari posnya dan bertanya padaku apa yang ingin aku lakukan disini. Sebelum aku menjawab pertanyaannya, Luna keluar dan menghampiri satpam tersebut dan membisikkannya. Aku tak tahu apa yang dibisikkannya. Lalu satpam tersebut pun tersenyum padaku. Aku pun bingung dan mau tak mau membalas senyumnya. Aku dipersilakan masuk dan Luna menuntunku memasuki istananya. Oke, kau telah menemukan pangeran yang tepat, Luna.

Memasuki rumahnya, mataku disuguhkan oleh furnitur-furnitur yang begitu artistik.  Bagaimana bisa merawat rumah sebesar ini pikirku. Tak hanya besar saja, ternyata pekerja di rumah ini pun begitu banyak. Bahkan para pekerja di rumah ini menyambutku bagaikan tamu terhormat. Menyediakan suguhan-suguhan yang menurutku berlebihan. Luna hanya tertawa padaku dan ia kemudian berbisik lagi pada salah satu pekerja rumah. Kini aku tak tahu lagi akan dibawa ke mana lagi olehnya. Para pekerja itu pun satu per satu meninggalkan kami di ruang ini. Sekarang suasana tampak sepi dan terlihat suram. Luna kemudian memegang tanganku dan mengajakku ke salah satu ruang berikutnya.
“Kamu tau San, kami udah nunggu kamu loh dari tadi,” kata Luna membuka percakapan kami.
“Benarkah? Padahal aku kira aku yang paling awal datang, nih,” kataku tidak percaya.
Suara tawa terdengar sangat keras sekali, aku yakin pasti ini tawanya Kimmy. Aku kenal sekali akan hal ini. Hanya dia yang dapat mengeluarkan semua kemampuan tawanya. Setelah memasuki ruang ini, aku melihat semua telah berkumpul di salah satu meja bundar. Mereka tengah asyik tertawa bersama, bahkan Fikri pun datang. Aku senang mereka bisa akur seperti itu. Tak hanya ruang depan saja, ruang ini pun desainnya begitu artistik. Sangat instagrammable.

***
Akhirnya tugas kami selesai hanya dalam waktu sekitar empat jam. Di tengah-tengah waktu istirahat kami, Bibo menyarankan kami untuk mengikuti permainan yang ingin dimainkannya bersama kami.
“Guys, kita main ToD yuk?” ajak Bibo ke kami. Tak membuang kesempatan, Kimmy sangat bersemangat seperti biasanya, “Ayo kita mainkan ToD! Udah lama aku gak main yang kaya begituan.” “ToD? Truth or Dare? Ah aku gak ikut, itu kan permainan buka-bukaan rahasia,” tolak Adam. Bibo kemudian menjelaskan aturan permainan kepada yang lain bahwa ini bukanlah ToD yang biasa.

ToD yang gue maksud ini adalah Truth or Drink, di mana bagi yang ingin membuka rahasianya silakan, bagi yang tidak ingin membuka rahasianya cukup minum saja, terus tentang pertanyaannya siapa-siapa saja yang dapat bertanya. Akan lebih adil kalo kita buat tiga pertanyaan acak, terserah apa aja, lalu masing-masingnya kita tulis ke dalam tiga lembar kertas berbeda. Karena jumlah kita enam orang, jadi kita akan mendapatkan delapan belas lembar pertanyaan acak dan kita tidak tahu kita akan menjawab pertanyaan punya siapa, cukup sederhana bukan?” tanya Bibo pada semuanya.
“Cuma minum aja? Kayanya ga terlalu beresiko deh,” ujar Fikri dengan percaya diri untuk mengikuti permainan ini.
“Eits, minumannya bukan air putih dong, gue udah siapain 20 biji jeruk nipis, sengaja gue bawa dari rumah. Jadi jeruk ini harus diperas semua hingga kita dapatkan esensnya. Kebayang kan, gimana asemnya yang bakal kita minum nanti?” Bibo mencoba menerangkan konsekuensi memilih drink.
“Wah seru banget nih, aku siapin gelas ya, yang kecil aja kali ya, Cuma esens, kan?” tanya Luna pada Bibo.
“Ya, gelas yang kecil-kecil aja Lun, eh, kalo ada botol bekas juga tolong dibawa Lun, buat nentuin siapa yang kena giliran. kalian mulai deh buat tiga pertanyaan kalian sekarang,” ucap Bibo pada kami.

Wah ini kesempatan bagus nih, sepertinya aku harus mempertanyakan hal-hal yang tabu dan juga bersifat rahasia pada Luna. Tapi itu juga kalau Luna yang mendapatkan giliran dan ia juga menerima pertanyaan dari kertasku. Semua pertanyaan ini harus dipertimbangkan dengan matang, karena kalau asal-asal menurutku dapat memengaruhi pertemanan kami. Kucoba pula untuk menemukan referensi tentang ToD.

Sial ternyata paket internet-ku habis. Terpaksa aku harus meminta bantuan tethering pada Adam. “Dam, idupin tethering lu dong, gue pengen browsing sebentar,” kataku meminta pada Adam. Adam kemudian mengeluarkan smartphone-nya dari saku. Kemudian ia sampai pada layar lockscreen. Ia menggunakan keamanaan jenis pola pada smartphone-nya, dan betapa terkejutnya ketika pola yang terbentuk untuk membukanya adalah sebuah huruf L.

Apa aku tidak salah lihat atau bagaimana? Memang Adam berada di bawahku saat ini. Ia tengah duduk bersila di sofa empuk ini, sedangkan aku berdiri di dekatnya. Hal itu membuatku dapat leluasa melihatnya ketika membuka layar smartphone-nya itu. Aku yakin sekali itu adalah sebuah inisial. Kebanyakan temanku juga akan menggunakan inisial orang yang disukainya pada metode keamanan smartphone jenis pola.

Sekarang apa lagi? L? sudah pasti, kan? Pikiranku langsung mengarah ke Luna. Siapa lagi gadis di dekat Adam yang memiliki inisial L? Setahuku hanya Luna seorang. Aku pun juga mengingat-ngingat kejadian di hari pertama kuliah. Aku ingat ketika Adam berusaha memotong pembicaraanku dengan Luna. Kemarin saja mereka datang dan terlambat, dan mereka tiba ke kampus di waktu yang sama. Mungkin saja mereka berangkat ke kampus bersama. Lagi, ketika Bibo merayu Luna di depan kelas, Adam menampakkan wajah yang tidak menyenangkan ke Bibo. Kupikir sudah dapat kusimpulkan bagaimana perasaan Adam ke Luna sekarang.

Oke, sekarang aku berkumpul dengan para kumpulan yang dapat dikatakan sebagai rival. Bibo, Fikri, dan Adam, ketiganya memiliki ketertarikan yang sama sepertiku. Mereka mungkin tidak tahu, namun aku telah lebih dulu menyadarinya. Dengan permainan ToD ini, aku dapat membuka rahasia mereka untuk meyakinkan pendapatku. Telah kubuat pula pertanyaan pamungkas untuk menjebak salah satu di antara mereka.

***
Permainan ToD pun dimulai, Bibo memutar botol kosong sebagai jalannya permainan. Apabila kepala botol berhenti tepat ke arah kami, maka kami mau tidak mau harus mengambil salah satu pertanyaan yang telah di-shuffle sebelumnya. Botol berputar cukup lama, mungkin saja karena permukaan botol dan permukaan meja yang keduanya licin. Hal ini menyebabkan perputaran botol menjadi lama. Kami pun deg-degan menunggu detik-detik berhentinya botol bencana ini.

Bagaikan jarum jam, tik-tok-tik-tok. Botol akhirnya berhenti mengarah tepat kepadaku. Sialan, aku korban pertama permainan ini. Yang lain tampak lega dan juga penasaran akan pertanyaan yang akan aku ambil ini. Aku pun deg-degan bukan main. Pertanyaan siapakah yang akan kuambil kali ini. Aku tetap percaya diri dalam mengambil pertanyaan ini. Bibo kemudian menjelaskan hal yang lupa dijelaskannya di awal permainan, “eh gue lupa ngejelasin, misalnya kita malah terambil pertanyaan yang kita buat sendiri, kita tetap harus jawab ya, ga ada alasan.”

Kampret, aku malah mendapat pertanyaan yang kubuat sendiri. Pertanyaannya pun ternyata pertanyaan pamungkas yang ingin aku tujukan ka Adam, Bibo, Fikri, atau Luna. Dan mengapa pula dari delapan belas pertanyaan, yang harus kujawab adalah pertanyaan yang kubuat sendiri? Ini baru namanya bumerang atau senjata makan tuan.
“Apa pertanyaannya San?” tanya Luna padaku.
“Ayo bacakan,” kata Bibo.
“Hm.. adakah gadis/pria yang kau sukai/sayangi/cintai di sini? Jika ya, sebutkan!” kataku ragu.

Mereka kaget dan saling pandang-pandangan. Mungkin mereka menerka-nerka siapa yang membuat pertanyaan seperti itu. Atau mereka merharapkan kejujuranku. Mungkin juga mereka berpikiran jika pertanyaan yang lainnya akan serupa seperti ini.
“Oke, jadi apa pilihan lu San?” tanya Fikri padaku.
“Hm.. bisa tolong siapin gelas dan esensnya?” pintaku dengan tenang.

To be continued..


Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment