Philophobia Chapter 1: Data

PHILOPHOBIA
CHAPTER 1: DATA
Aldi Reynaldi

Habis gelap terbitlah terang. Bukan buku karangan R. A. Kartini, namun yang kualami saat ini. Ya, membuka mata selepas tidur malamku. Kukira waktu liburan panjangku telah usai. Sinar-sinar cahaya memaksa masuk di celah-celah tirai jendela. Berupaya mengusik keasyikanku dalam ketenangan pagi ini. Bahkan alarm smartphone-ku pun ikut berpartisipasi dalam membangunkanku. Oke, aku bangun.

Kutatap pemandangan di luar jendela, tak biasanya aku melakukan hal seperti ini. Mungkin saja suasana tampak lebih bersemangat. Juga untuk sekadar menyerap beberapa vitamin D. Siapa sangka, hari ini adalah pertama kalinya aku akan mulai berkuliah di salah satu universitas negeri di kotaku. Kulihat jarum pendek pada jam dinding bergegas mengarah pada jam 6 pagi. Terlalu dini untuk mandi pada jam segini, tapi aku juga melakukannya seperti biasa.

“Udah bangun San, tumben cepet banget,” kata Ibu sambil menyapu lantai dapur dengan sapunya yang mulai tidak berfungsi dengan baik.
“Iya bu, hari ini kan hari pertama Ihsan masuk kuliah. Mesti bangun awal dong,” jawabku.
“Yaudah kamu mau mandi dulu nih? Nanti Ibu siapin air anget,” ujar Ibu dengan menyudahi pekerjaannya.
“Gak usah Bu, Ibu lanjut aja nyapunya, dan Ibu sepertinya mesti beli sapu yang baru deh, kasian Ibu nyapunya ga selesei-selesei,” kataku bergegas ke kamar mandi dengan berkalungkan handuk. “Oh iya, nanti Ihsan beliin sapu yang baru sepulang kuliah nanti,” kataku memberikan tawaran ke Ibu.
“Yasudah terserah kamu aja, kalo gitu Ibu siapin sarapan dulu,” kata Ibu.

***
“Oh kamu hari ini udah mulai kuliah aja ya,” kata Ayah ikut bergabung di meja makan.
“Ya begitulah Yah,” jawabku. Lalu aku mengambil telur dadar yang telah Ibu siapkan di meja ini. Adikku, Revo tak mau kalah juga dalam memperebutkan telur dadar ini. “Bang Ihsan kan udah kuliah, ngalah dikit dong,” sergahnya tak terima ketika aku berhasil memperebutkan setengah bagian telur dadar ini.
“Kuliah ga ada hubungannya kali dengan rebutan telur dadar buatan Ibu,” cetusku.

Revo tak tinggal diam, kini ia berargumentasi dengan pemikirannya yang sedikit teoritis, “Tentu ada dong, udah mulai kuliah berarti cukup umur alias dewasa, orang dewasa harus pula dewasa dalam hal bersikap, orang dewasa juga gak boleh egois. Gimana mau punya pacar kalo egois terus. Oh iya lupa, bang Ihsan kan ga punya pacar, pantesan.”
“Eitssss, kok malah lari ke pacar-pacar, bilang aja lu sengaja ngejek gue,” balasku tak terima atas pendapat konyolnya.
“Sudah-sudah, kalian pagi-pagi jangan berantem dulu, nanti telur dadarnya abis dimakan Ayah loh,” sambung Ibu berusaha menenangkan suasana.
“Emang udah abis dari tadi kok bu,” kata Ayah sambil tertawa cengengesan. “Tuh makanya jangan ngoceh mulu, kena batunya kan, malah dimakan Ayah,” kataku pada adikku yang sok tahu ini.
 “Tapi Revo ada benarnya juga San, kamu kan udah 18 tahun, Ayah gak pernah tuh liat pacar kamu,” ujar Ayah dengan nada agak sedikit mengejek.

Perkataan Ayah tak semuanya benar, semasa SMP aku pernah berpacaran dengan salah satu kenalan, kini aku tak pernah kepikiran untuk menjadikan salah satu gadis mana pun untuk dijadikan seorang pacar. Bukan karena kurang minat, hanya saja seleraku terlalu tinggi. Mungkin ini yang menjadikanku agak sulit dalam memulai sebuah hubungan dengan seorang gadis. Dan mana mungkin Ayah tahu aku pernah berpacaran saat SMP dulu. Zaman-zaman pembodohan dalam berpacaran. Aku juga mempertanyakan hubungan lampauku yang aneh itu, apakah menjalin hubungan hanya dalam satu minggu dapat dikatakan berpacaran?

“Siapa bilang Ihsan gak pernah pacaran? Ihsan aja kok yang gak mau ngumbar-ngumbar masalah ini,” belaku melawan pendapat Ayah.
“Oh ya? Kapan abang terakhir pacaran?” tanya Revo dengan tatapan yang menjengkelkan.
“Yang jelas lu belom lahir lah,” balasku dengan nada sedikit kesal. “Ah kok pagi-pagi malah kaya gini sih, Ihsan sarapannya udahan,” kataku. Lalu aku beranjak dari kursi makan ini. Tak lupa pula kucium kedua tangan orang tuaku sebelum berangkat ke kampus. Ayah juga masih berusaha menggodaku dengan saran-sarannya, “Ini kan hari pertama kamu kuliah, pasti kamu ketemu banyak cewe, cari yang cantik San, jadiin pacar.”

Kucoba tak menghiraukan perkataan Ayah barusan dan segera melangkah ke luar ruang makan. Kampret, gara-gara Revo semua percakapan ini harus terjadi. Gara-gara itu semua juga aku malah kepikiran akan kesendirianku selama ini. Bukan apa, mereka seperti meremehkan kemampuanku dalam menggaet seorang perempuan.

***
Putih-putih almamater, identias seorang mahasiswa baru. Kurang lebih 20 menit aku tiba di kampus baruku ini. Setibanya di Lab. Informatika, tak ada yang istimewa, begitulah faktanya. Kerumunan mahasiswa baru yang belum terbiasa satu sama lain sedang berbincang-bincang kecil. Karena ketidaktahuan di ruang manakah kami akan mulai berkuliah, terpaksalah kami berkumpul di depan lab ini.

Namun di antara ramainya kerumunan, pandanganku seperti dialihkan ke arah yang lain. Seperti ada yang sengaja membiarkan bola mata ini bergerak dengan sendirinya. Tak kusangka seseorang yang tak pernah kukenal dan kulihat dapat membuatku terpana. Padahal tak biasanya seorang gadis dapat meluluhkanku hanya dalam hitungan menit, bahkan mungkin detik. Siapakah dia? Gadis penuh pesona ini?

Baru saja aku melihatnya sebentar, dia secara luar biasa merespon dengan cepat. Kurasa dia menyadari pandanganku padanya, cepat-cepat kumenoleh ke arah yang lain, berharap tak ada lagi kontak langsung antara aku, mataku, matanya, dan dia. Di arah yang lain, sekilas aku melihat sosok yang kukenal. Setelah berpikir agak lama, begitu terkejutnya aku ketika berhasil mengidentifikasi salah satu teman dekatku semasa SMP. Kuraih tangannya dan berjabat salam, sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya.

“Hei Adam kan?” aku bertanya untuk meyakinkan dugaanku. “Ya pastilah San, emang nama gue bisa berubah sendiri gitu?” balasnya dengan keheranan.
“Oh mungkin aja lu pernah ganti nama di akta, siapa tahu? Lu apa kabarnya nih? Udah lama kita gak ketemuan,” kataku.
“Lu liat kan gue sekarang kaya gimana? Gak ada sakit apapun,” ujar Adam sambil melihatkan keadaannya.
“Ya cuma agak tua aja sih,” balasku mengejeknya. “Lu juga kali ah, by the way lu naksir sama cewe itu ya?” Adam menunjuk ke arah pandanganku sebelumnya.

Setengah panik aku menoleh ke arah yang ditujukan Adam, parah ternyata aku juga kepergok temanku ini. “Eh cuma ngelirik aja, gak lebih,” belaku setengah menutup-nutupi.
“Ah yang bener? Aku kenal loh siapa dia,” lanjutnya dengan intonasi yang sedikit menggoda rasa penasaranku. Sekejap tanganku ditarik oleh Adam ke arahnya. Sontak aku terseret menuju ke arah kerumunan, ya menuju ke arah dia. Sialan Adam, mengapa juga dia sampai begininya ke aku.

Dengan setengah senang juga khawatir, kami menuju ke tempat dia. Anehnya dia hilang tak berada di tempat itu lagi. “Perasaan gue tadi Luna di sini deh,” Kata Adam sedikit kebingungan. Ternyata Adam mengenal gadis itu, kubertanya untuk mendapatkan informasi lebih detil, “Luna? Lu kenal dengan dia?”
“Ya kenal lah, dia kan temen sma gue,” lanjut Adam.
“Emang lu dari SMA mana sih?” tanyaku. “Please deh San, SMA lu dan SMA gue kan sebelahan….,” kata Adam.
“Eh iya, hahaha tapi serius gue gak pernah liat tuh cewe lewat depan sekolah gue,” kataku. “Dia orangnya memang sedikit pendiam sih, tapi kalo udah sama orang yang dikenal enak banget diajak temenan,” tambah Adam meyakinkan kepadaku. Memang benar kata Adam, ia kelihatan pendiam. Soal berteman, tanpa Adam bilang begitu saja aku yakin dia ingin mengenalku.

Tak butuh waktu lama untuk menemukannya di kerumunan ini. Mataku bergerak dengan sendirinya mengarah ke dia, lagi. Bagaikan mata ini tercipta hanya untuk memandangnya. Kaki-kakiku bahkan refleks berjalan menuju ke arahnya. Pikiranku juga perlahan mulai kosong dan tak memedulikan sekitar. Semua yang kulihat terasa gelap, namun di antara kegelapan ini terdapat setitik cahaya terang. Setitik cahaya yang mungkin akan mengantarkanku padanya. Apakah aku jatuh ke dalam sebuah ilusi? Atau apakah aku sedang dihipnotis olehnya? 

Kututup mataku sejenak di kerumunan ini, kucoba tenangkan diri dari berbagai keanehan yang terjadi ini. Jantungku berdegup mulai tak karuan. Keringat mulai bercucuran di sekitar dahiku. Sejenak aku terdiam, kuhela napas panjang, berusaha menikmati suguhan udara sekitar. Pelan-pelan kuberanikan diri untuk membuka mata. H-o-l-y-sh*t, aku terkejut bukan main, bagaimana bisa aku tepat berada di depannya?

Mungkin hanya sekitar 10 cm jarak kami berdua. Mata kami saling menatap dalam sunyi. Cukup lama kami di posisi seperti ini, hingga Adam mencolekku dari belakang. “San kok lu ninggalin gue sih? Eh Luna? Gue gak tau lo kuliah di sini juga,” katanya berbasa-basi ke Luna.
“Hei Adam, ya aku juga gak pernah cerita kalo aku kuliah disini,” katanya lembut pada Adam.
“Woi San, sadar nape?” Adam mencoba menghalangi pandanganku ke Luna. “Gue sadar kok dari tadi,” kataku.
“Kenalin Lun, ini teman SMP gue, namanya Ihsan, dia juga SMA-nya sebelahan dengan sekolah kita kok,” kata Adam berusaha memperkenalkanku pada Luna.
“Oh SMA Taruna ya, kenalin aku Luna,” ia memberikan tangannya. Dengan agak gugup aku memegang tangannya, “G.. gue hm, gue Ihsan.”
“Maklum lah Lun, Ihsan agak gugup, udah lama dia gak pernah megang tangan cewe,” ejek Adam kepadaku.

Luna sama sekali tak menghiraukan Adam, “Nama yang bagus, artinya kebaikan kan?”. Tidak hanya menawan, gadis ini juga cukup berwawasan. Kubalas lagi pernyataannya, “Nama kamu juga bagus, kalo tidak salah artinya bulan kan? Menerangi malam yang gelap.”
“Hahaha kamu orang yang baik Ihsan, sesuai dengan namamu,” puji Luna padaku. Wajahku merona bukan main menerima pujian lembut Luna.
“Ekhmmmm… nama gue Adam, laki-laki pertama yang diturunkan ke bumi, puas?” potong Adam. “Yeee apaan sih lu Dam, motong-motong aje,” protes Luna. “Bukannya gue berniat motong pembicaraan manis kalian, tapi liat kan, udah mulai sepi disini? Kayanya udah pada masuk ke kelas deh,” bela Adam. “Eh iya loh, mending kita buruan ke kelas,” Luna meraih tanganku dan berlekas ke arah pintu Lab. Gila, baru perdana saja tanganku sudah dipegangnya.

***
Beruntungnya ternyata kami bertiga berada di kelas yang sama. Kami duduk bertiga di bagian belakang karena kami datang terlambat. Tapi percayalah cinta tak datang terlambat teman. Suasana kelas begitu senyap. Dosen berperawakan agak killer memperkenalkan diri sebagaimana mestinya. Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Begitulah formulanya, seperti yang telah kualami tadi di depan Lab. Mungkin ini akan menjadi jalanku untuk memulai cerita yang baru.

Berhubung ini adalah pertemuan pertama pada dosen yang bersangkutan, kami hanya diberi arahan bagaimana sistem perkuliahan, apa-apa saja yang perlu dilakukan, dan bagaimana menaati setiap aturan. Tak lupa pula di pertemuan pertama ini kami diberi tugas berkelompok, dengan jumlah anggota maksimal tiga orang. Dengan begitu, pastinya aku, Adam, dan Luna akan menjadi sebuah kelompok. Sudah diputuskan pula kami akan memulai pekerjaan kami di rumah Luna. Tak disangka-sangka pula bahkan dosen pun ikut serta melancarkan hubunganku dengan gadis yang sebelumnya tak kukenal ini. Terima kasih Adam, lab, dan dosen yang bersangkutan, sekarang aku telah memiliki nomor handphone Luna, beserta alamat rumahnya.


To be continued..

Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment