Philophobia Chapter 3: Logika

PHILOPHOBIA
CHAPTER 3: LOGIKA
Aldi Reynaldi

Sudah hampir tiga bulan kami mengenal satu sama lain. Kini aku telah mengetahui sifat-sifat mereka. Luna adalah gadis yang kesepian. Ayahnya bekerja di luar kota, sedangkan Ibunya seorang wanita karier. Mendengar ceritanya itu, pantas saja rumahnya terasa sepi. Hanya ada dia dan para pekerja rumah saja. Tak heran juga ia menawarkan untuk berkumpul di rumahnya kala itu. Kurasa, ia jarang sekali ke luar rumah, hal itu dapat kubaca dari raut wajahnya. Wajahnya sangat berbeda ketika bertemu dengan teman-teman di kampus dengan wajah ketika melihat kami pulang dari rumahnya waktu itu.

Adam yang kukenal dulu ternyata berbeda dengan yang sekarang. Adam yang dulu adalah Adam yang bersifat transparan soal apapun ke setiap orang. Saat SMP, aku sangat kenal sekali dengan kebiasaannya. Namun sekarang Adam terlihat lebih dewasa. Sikapnya pun begitu over protective, apalagi terhadap Luna. Aku bahkan tak tahu hubungan apa yang mereka jalani saat ini. Kurasa bukan perteman biasa.

Bibo ternyata memiliki kepribadian unik. Di depan khalayak ramai, ia dapat menjadi pusat perhatian, bagai pelawak kondang. Tapi, ketika berada di dekat seorang gadis, ia secara otomatis merubah sikapnya menjadi dingin, sopan, serius, dan begitu perhatian. Meskipun begitu, ternyata Bibo adalah orang yang pintar. Aku juga mengakui bahwa ia sangat jago dalam hal belajar. Contohnya ketika ada tugas-tugas yang sulit, ia dapat menyelesaikannya dengan mudah.

Kukira apa yang dikatakan Bibo tidak benar soal Fikri waktu itu. Ternyata aku sangat menyetujui bahwa Fikri sangatlah culun. Ketika bersama dengan teman-teman dekat, ia seperti normal saja, mulai dari gestur tubuh dan cara bicaranya. Namun ketika berada dengan orang-orang yang kurang akrab atau tidak dikenalnya, ia terlihat sangat geek. Di balik perilakunya yang weird & nerd itu, ia adalah orang yang paling mesum di antara kami. Ia sangat ahli dalam hal-hal berbau IYKWIM. Referensinya pun tak bisa dianggap remeh begitu saja. Koleksi IYKWIM-nya pun bagai perpustakaan. Bagi kami, ia bagaikan kamus berjalan khusus IYKWIM.

Sedangkan Kimmy, aku sangat hafal dengan kelakuannya. Jika bertemu denganku, maka ia akan sangat kegirangan. Teriakannya pun tak mungkin terlupa. Aku teringat bagaimana awal pertama kali kami bertemu saat SMP dulu. Ketika berada di kelas baru, ia terus memerhatikanku. Hingga pada akhirnya seorang guru mulai mengabsen namaku, saat itulah Kimmy mengetahui namaku dan betapa terkejutnya seisi kelas ketika ia berteriak histeris begitu tahu namaku. Andai saja aku berada di kelas yang berbeda saat itu, mungkin saja ia tidak mengetahui identitasku. Setidaknya mengurangi kekerabatanku dengan gadis maniak ini. Tentunya yang akan dia lakukan pertama kali setelah teriak adalah mencubit pipiku dan menariknya ke kiri dan ke kanan. Setelah itu, ia akan memelukku dengan erat. Buruknya, hal itu telah kualami dalam kurun waktu sekitar enam tahun.

***
Hubunganku dengan Luna berjalan dengan baik. Selama ini aku tak memiliki kendala apa pun. Bahkan hal-hal yang aku takuti ternyata tidak terjadi sama sekali. Kami pun sangat intens dalam berkomunikasi meskipun hanya via aplikasi perpesanan. Tidak peduli apa pun topiknya, kami selalu berkomunikasi setiap malam. Malah ia yang sering memulai percakapan daripada aku. Terbalik dengan gadis-gadis lainnya yang ingin didahului percakapannya oleh si pria. Aku paham, ia selalu merasa kesepian di rumahnya. Ia pasti membutuhkan percakapan-percakapan kecil untuk menghiburnya di kala malam tiba. Di setiap percakapan kami, ia selalu mencoba menggodaku. Tak biasanya seorang gadis nge-chat seperti itu padaku. Beda dengan Kimmy, ia tak peduli apakah chat-nya dibaca olehku atau tidak, ia selalu memenuhi notifikasiku, baik di BBM, Line, dan Whatsapp. Apa yang Kimmy bicarakan selalu tidak menarik simpatiku. Terkadang aku sengaja tidak membaca semua pesannya. Gila, siapa yang ingin membaca pesan yang jumlahnya bisa sampai seratus tiap harinya?

Luna juga sering memintaku untuk webcam-an. Jujur saja aku deg-degan, bagaimana bisa aku menghadapinya. Memandang wajahnya secara langsung saja aku masih gugup. Aku pun sering berkilah bahwa jaringan internet-ku tidak kuat, kuota mau habis, dan alasan-alasan lainnya. Tapi setidaknya aku pernah beberapa kali melakukannya. Kami melakukannya via laptop. Saat kami tersambung, aku bisa melihat wajahnya, ya meskipun terdapat kotak-kotak yang mengurangi kecantikannya. Tak banyak yang bisa kami lakukan di webcam. Kami sama-sama salah tingkah. Ujung-ujungnya kami hanya bisa tersenyum satu sama lain. Sepatah kata pun jarang kami keluarkan ketika di depan kamera. Untuk berkomunikasi, kami tetap menggunakan fitur chat yang disedikan tepat di bawah gambar wajah kami. Percakapannya pun sama saja dengan yang biasanya kami lakukan. Hanya saja, ia selalu mengakhiri percakapan kami dengan, “Aku seneng lihat wajah kamu, San.”

Tak henti-hentinya aku menguap. Tak ada lagi percakapan antara aku dan Luna. Kulihat jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul sepuluh. Sepertinya sudah waktunya untuk tidur. Besok pagi juga aku harus bangun awal. Alarm pun sengaja kubiarkan mengamuk nanti pagi. Sejenak kulihat pemandangan kamarku, semua kelihatan berantakan sekali. Gara-gara mengerjakan laporan, banyak kertas-kertas, buku-buku, laptop, dan alat tulis berserakan di mana-mana. Kubiarkan saja semua ini, aku sudah tak tahan ingin segera tidur.

***
Pagi ini aku sudah ada janji dengan Kimmy di taman dekat kampus. Berhubung pada jam pertama perkuliahan ada tes, ia memintaku untuk mengajarinya materi yang akan diujikan nanti.

Setibanya di taman itu, aku menemukan sebuah kursi panjang berwarna putih. Langsung saja kududuki kursi itu sambil mengeluarkan materi yang akan kuajarkan ke Kimmy nanti. Setelah dipikir-pikir, taman ini ternyata bagus juga. Di depannya terdapat kolam yang tidak begitu besar namun airnya cukup jernih. Ikan-ikan berenang ke sana kemari mencari mangsanya pagi ini. Burung-burung pun bersahut-sahutan seperti sedang bercakap-cakap. Udara pagi ini juga cukup sejuk, tidak biasanya pagi-pagi sudah berkabut.

Tiga menit aku menunggu di taman ini. Tak lama kemudian Kimmy datang dengan riang seperti biasanya.
“IHSAAAAAAAAN!!” teriaknya di pagi buta ini.
“Udah-udah, ayo kita mulai aja sekarang,” kataku.
“Mulai apanya? Kamu kok udah pengen aja sih?” goda Kimmy padaku.
“Heh, mulai belajarnya, gak usah mikir macem-macem,” sergahku.
“San, aku peluk dulu ya,” pinta Kimmy dengan wajahnya memelas.
“Eh disini kan…,” kataku. Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, ia sudah tidak sabar untuk memelukku. Lagi-lagi di depan umum seperti ini. Untunglah belum ada yang berkeliaran pagi-pagi di taman ini.
Kimmy memelukku sangat erat kali ini. Aku pun hanya bisa pasrah saja jika ia memelukku.
“San,” bisik Kimmy padaku.
“Ya?” tanyaku.
“Kamu gak pernah meluk aku, selalu aku yang meluk kamu,” ucap Kimmy padaku dengan pelan.
“Itukan kamu yang mau, aku gak mau,” kataku santai.
“Kamu gak mau coba meluk aku?” tanyanya lagi.

Jantungku seketika berdetak lebih cepat ketika Kimmy memintaku untuk memeluknya. Memang selama ini hanya dia yang memelukku dan aku tidak pernah membalas pelukannya. Suasana taman cukup sepi, kupikir tidak ada salahnya mencoba memeluk seorang gadis. Kucoba menggerakkan tanganku, perlahan kupeluk dia dengan lembut. Perlahan namun pasti, lama kelamaan aku mulai memeluknya dengan erat. Kurasakan tubuhnya seketika lemas, ia tak berdaya, sama seperti yang kualami jika ia memelukku dengan erat. Cukup lama aku memeluknya, dapat pula kudengar desahan napasnya. Ternyata hangat juga berpelukan.

Sekitar tiga puluh menit kami habiskan dengan belajar di taman. Suasana pun perlahan mulai ramai. Ada yang sedang melakukan jogging, bersepeda, berjalan santai, dan duduk-duduk. Kurasa sudah waktuny menuju kampus. Aku mengemasi barang-barangku dan memasukkannya ke dalam tas, begitu juga dengan Kimmy.

“Eh, San, lihat, di kolam ada sesuatu!” pekik Kimmy. Kutoleh ke arah kolam namun aku tak bisa melihat apa-apa. Di kebingunganku itu, ia tiba-tiba mengecup pipi kananku dengan lembut. “Kim?” tanyaku padanya. Ia hanya tersenyum saja dan berlari meninggalkanku. Parah, sepertinya ia benar-benar sudah jatuh cinta padaku.

***
“Hei, lusa kan Luna ultah, kita kasih kejutan yuk,” kata Fikri ketika Luna meninggalkan ruang kelas.
“Heh? Jadi sebentar lagi Luna ultah? Dam kok lu gak ada ngasih tau gue?” tanyaku pada Adam.
“Oh gue kira lu udah tau San, jadi gimana idenya Fik?” tanya adam.
“Soal ide gue masih belum tau sih, gue niatnya mau ngajakin kalian besok ke kafe gue buat ngebahas ini,” kata Fikri.
“Ide bagus tuh, besok jam berapaan?” tanya Kimmy.
“Kira-kira jam empatan aja ya,” tambah Bibo menyarankan.
“Oke, gue setuju aja, yang lain gimana?” tanya Fikri. Semua pun mengiyakan saran Bibo. Tepat setelah kami berdiskusi, Luna pun memasuki ruang kelas dan diikuti dengan dosen yang akan mengajar.
“Kalian ngomongin apa?” tanya Luna curiga.
“Gak ada apa-apa kok Lun, cuma ngomongin di mana kita bakal kerja kelompok aja, sih,” kata Adam.
“Yaudah rumah gue aja ya siang ini?” tawar Bibo ke yang lainnya.

Sebenarnya tugas yang kami omongkan ini deadline-nya masih lama. Tidak apalah untuk menutupi kecurigaan Luna. Masalah lokasi, aku sebenarnya tidak mempermasalahkan. Terserah saja mau di mana bekerjanya, yang penting dapat selesai tepat waktu. Beruntung juga aku punya teman sekelompok seperti mereka yang rajin dalam hal belajar. Hampir semua tugas kami dapat diselesaikan dengan lancar.

***
Akhirnya aku dan Fikri telah sampai di rumah Bibo. Aku sengaja meminta Fikri untuk menjemputku karena ban motorku tanpa kusadari telah bocor sedari pulang kuliah tadi. Tadi sudah kucoba pula menelepon nomor Adam untuk meminta jemputan darinya. Berkali-kali telah kutelepon tapi Adam tak mengangkatnya sama sekali. Tak lama setelah Bibo mempersilakan kami masuk, smarthphone-ku pun berdering, layarnya menampilkan nama Adam. “Halo, Dam,” kataku menyapa. Ternyata ia punya keperluan sebentar. Ia menjelaskan bahwa ia sepertinya akan telat. Kupikir itu sebabnya ia tak menjawab teleponku tadi.

Kimmy sudah dari tadi berada di rumah Bibo. Ketika ia tahu bahwa aku telah tiba, ia pun bergegas ke arahku. Ia juga telah mengambil ancang-ancang untuk meneriaki namaku. Cepat-cepat kututup mulutnya untuk meminimalisir suara yang akan dikeluarkannya. “Udah Kim, jangan teriak-teriak lagi. Kita lagi di rumah orang, malu tau,” kataku. Kimmy melangkah mundur dan menggangguk saja. Ia kemudian tiba-tiba menolakku ke sofa. Gila, makan apa gadis maniak ini barusan. Aku seketika terdorong ke sofa dengan posisi duduk. Ia pun segera duduk di pangkuanku. Wajah kami begitu dekat. Astaga, apa dia ingin menciumku lagi. Kupejamkan mata karena takut hal itu aku terulang lagi. Gara-gara tadi pagi, dia sudah berani saja seperti ini. Kutunggu apa yang akan dia lakukan denganku kali ini. Ternyata tidak ada, kucoba membuka mata. Kulihat dia hanya tersenyum padaku. Kemudian ia mencubit pipiku seperti biasa. Ia kemudian beranjak masuk ke arah dalam dan meninggalkanku, mungkin saja menuju ke kamar mandi.

Fikri menutup matanya meski kuyakin pasti dia melihat juga adegan aneh tadi. Bibo juga terlihat seperti mengintip di sela-sela tirai. Kampret, aku baru menyadari kalau ini umum. Bisa-bisanya aku membiarkan Kimmy seenaknya seperti tadi di depan Fikri dan Bibo. Mereka akhirnya perlahan mendekat padaku.
“San, lu udah sering begituan?” tanya Fikri penasaran.
“Heh itu pertama kali gue digituin Kimmy, gue juga kaget tadi,” kataku mencoba menjelaskan.
“Serius, San, lu kok bisa-bisanya dapet service kaya begitu? Gue ngiri banget,” ucap Bibo.
“Gue aja gak mau digituin Bo, itu Kimmy-nya aja yang kelewatan,” kataku.
“Itu udah tanda-tanda San, kalo cewe ngelakuin hal kaya begitu, itu tandanya…” kata Fikri mencoba menjelaskan.
“huss gue gak mau denger kata-kata mesum lu, Fik. Hmm, gue butuh udara segar dulu, gue keluar bentar ya,” ujarku sambil melangkah ke luar pintu utama.
“San, nanti ajarin gue ya!” sahut Bibo padaku. Aku heran apa yang Bibo minta ajarkan padaku. Apa juga yang harus kuajarkan padanya. Ketika aku dipeluk Kimmy, ia selalu mengatakan hal itu. Tapi tetap saja aku tak bisa mencerna kata-katanya. Ah, mungkin tidak begitu penting bagiku memikirkan hal itu.

Aku duduk di kursi teras rumah Bibo. Udara siang ini cukup panas, tak seperti tadi pagi yang sangat sejuk. Pikiranku kembali teringat akan kejadian pagi tadi. Kurasa Kimmy telah semakin menjadi-jadi padaku. Tadi saja ia sudah berani seperti itu, bagaimana jika aku tetap membiarkannya melakukannya lagi? Mungkin kami sudah dicap sebagai sepasang kekasih.

Bermenit-menit aku duduk di teras ini sembari memikirkan solusi untuk menghindari Kimmy. Di tengah-tengah aku sedang berpikir, tak lama kemudian Adam dan Luna tiba. Katanya Adam sedang ada urusan, ia juga mengatakan jika ia akan datang terlambat. Tapi buktinya ia tiba dengan Luna tidak lama setelah aku dan Fikri sampai. Kumalingkan wajahku dan menganggap tidak menyadari kehadiran mereka. Adam kemudian menyapaku seperti biasa. Ia bertingkah seperti tidak ada yang janggal darinya, padahal aku dapat merasakannya. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku. Sebuah tanda tanya besar,  bukan?
“San, sama siapa lu ke sini?,” tanyanya.
“Oh tadi sama Fikri,” kataku.
“Yang lain udah pada dateng?” tanya Adam lagi
“Udah, cuma kalian aja yang telat, “ kataku.
“Eh aku masuk dulu,” kata Adam kemudian segera masuk ke dalam. Luna hanya tersenyum kecil padaku. Ketika ia ingin masuk bersama Adam. Kutarik tangannya dan mengajaknya duduk.
“Kalian dari mana?” tanyaku penasaran pada Luna.
“Baru dari makan-makan, sih, kebetulan Adam nraktir, ya udah aku terima aja,” kata Luna.
“Oh, baguslah, kukira kalian punya kendala dalam perjalanan ke sini,” kataku sambil tersenyum.

Kendati aku curiga, tapi aku tetap berusaha untuk tidak menampakkan gelagatku. Tanpa disadari aku juga merasakan kecemburuan. Sudah hampir tiga bulan berlalu tapi aku belum pernah mengajak Luna pergi ke suatu tempat, apalagi berduaan saja.

Lama-kelamaan pikiranku semakin kacau menanggapi sikap Adam, kelakuan Kimmy, permintaan Bibo dan sifat Luna. Semuanya begitu campur aduk. Seperti sedang mengerjakan soal matematika tingkat dewa. Aku tak bisa menyortir setiap kejadian demi kejadian dengan baik. Semua tampak begitu misterius di pikiranku. Sikap Adam sangat berubah ketika aku mulai melakukan pendekatan ke Luna. Kimmy terlihat lebih agresif dari biasanya. Bibo sering melontarkan permintaan yang kurasa aneh setiap Kimmy di dekatku. Dan yang paling kutakuti adalah sifat Luna yang hampir tak berubah sama sekali. Luna begitu unpredictable dan aku tak bisa membaca pikirannya.

Ketika tengah berduaan dengan Luna, Kimmy menghampiri kami. Ia menampakkan wajah yang berbeda. Ia tampak tak riang seperti biasanya.
“Masuk yuk, udah mau dimulai kerjaannya,” kata Kimmy menyuruh kami untuk bergabung ke dalam.
“Oh iya hampir lupa,” Luna kemudian beranjak dan hendak masuk ke dalam.

Ketika aku beranjak, Kimmy memegang tanganku dan menggandengnya. Apa-apaan gadis maniak ini. Mengapa di depan Luna ia melakukannya. Hal ini bisa-bisa mengurangi kesempatanku pada Luna. Luna hanya melihat kami, ia pun tersenyum kecil. Apa maksudnya tersenyum begitu? Apa ia mengira kami berpacaran?

***
Pekerjaan kami kali ini ternyata cukup sulit. Bibo yang biasanya menyelesaikan tugas dengan mudah, sekarang ia tak berkutik sama sekali. Mau tidak mau kami pun berbagi pendapat untuk menyelesaikan pekerjaan kami. Apalagi dari tadi pikiranku mulai kacau jika mengingat-ngingat kejadian yang kualami pagi ini hingga tadi siang. Rasanya kepala ini seperti bom atom yang siap meledak. Yang memperburuk keadaan adalah sikap Kimmy yang menjadi-jadi padaku. Ia tak henti-hentinya mencubit pipiku, menyandarkan kepalanya di bahuku, dan kegiatan-kegiatan mengganggu lainnya.

Sekitar tiga jam lebih kami berhasil menaklukannya. Meskipun sulit, akhirnya pekerjaan kami pun selesai. Berakhirnya pekerjaan kami ternyata tidak mengakhiri kelakuan Kimmy padaku. Ia semakin berani dan mencoba memelukku lagi.

“Kim, kim, udah, hentikan,” pintaku padanya. Ia tak menghiraukan perkataanku. Ia seperti menganggap bahwa tak ada orang lain di sini. Wajahku tak mampu lagi menahan semua ini, ia kemudian memerah seperti kepiting rebus. Luna pun melihatku dengan senyum kecil di bibir mungilnya. Kulihat Bibo memalingkan wajahnya, aku rasa ia jelly padaku ketika Kimmy melakukan ritualnya lagi. Tunggu, kukira aku sudah bisa menebak apa yang Bibo inginkan dariku. Namun tetap saja senyuman Luna sangat mengganggu pikiranku. Tak tahukah dia jika aku tak ada apa-apa dengan Kimmy?

Aku mencoba untuk lepas dari belenggu Kimmy. Semakin aku mencoba, maka ia pun semakin mantap memelukku.
“Kim, udah lepasin,” pintaku pelan.
“Gak, aku gak mau ngelepasin kamu,” kata Kimmy manja.
“Kim, tolong lepasin aku,” kataku lagi dengan nada agak tinggi. Ia tetap tak mengindahkan perintahku. Padahal ia sendiri yang menyebutku raja di hatinya. Kupikir jika aku raja, maka seharusnya ia menaatiku.
“Kim,” kataku lagi dengan nada lebih tinggi dari yang sebelumnya kukatakan.
“Gak!” ujarnya manja.
“KIM!!!” kataku dengan nada tinggi sekali. Amarahku tak terbendung lagi. Darahku terasa mendidih sekali dibuatnya. Aku tak kuasa menerima pelukannya lagi. Apa yang ia lakukan sekarang sangat menggangguku. Belum lagi pikiranku yang sedang kacau akibat semua ini. Aku tak ingin Luna beranggapan bahwa aku telah memiliki Kimmy. Aku tetap ingin menjaga perasaanku pada Luna. Bukannya pada gadis maniak ini.

Kimmy kemudian melepaskan pelukannya dariku. Ia menatapku dengan wajah terkejut. Tak hanya dia, yang lain pun terkejut melihatku. Fikri menutup matanya lagi dengan kedua tangannya. Bibo terlihat terkejut juga akan apa yang kulakukan pada Kimmy. Dari raut wajahnya, kulihat ia seperti tidak terima jika aku kasar pada Kimmy. Sedangkan Adam dan Luna hanya diam tak memberikan raut wajah apa pun. “Kamu jahat San!,” kata Kimmy kecewa. Ia kemudian berlari ke luar meninggalkan ruang ini.

Wajahnya yang selalu riang kini berubah drastis ketika aku memarahinya. Tak biasanya pula ia menampakkan matanya yang berkaca-kaca di hadapanku. Oh God, aku telah berhasil membuat seorang gadis terluka. Pria seperti apa aku ini?

Inilah yang tak ingin kulakukan pada Kimmy. Memarahinya adalah kejahatan terbesar bagiku. Kuakui dia selalu baik padaku, hanya saja kali ini ia sudah kelewatan. Kebaikannya terasa sirna ketika ia melakukan ritualnya secara berlebihan.

Kucoba tenangkan diriku dengan menghela napas. Jujur aku menyesal telah melakukannya, apa lagi memarahinya di depan teman-teman. Tapi semua ini terpaksa kulakukan untuk melindungi image-ku di depan Luna. Bukankah aku seorang pria yang egois?
“San, kejar Kimmy!” perintah Bibo padaku.
“Lu gak seharusnya berlebihan gitu San,” tambah Fikri.
“San,” kata Adam yang semakin menyudutkanku.
“Sebaiknya kamu kejar dan minta maaf ke dia, ayo cepet!” perintah Luna padaku.

Oke, semua mendorongku. Bagaikan aku lah orang yang paling bersalah di antara kami. Jika saja Kimmy tidak begitu padaku, tak mungkin aku berniat menyakitinya. Namun tetap saja aku yang salah, ya aku menyadarinya. Segera aku keluar dari ruang ini dan mencari Kimmy.

***
Kawasan di sekitar rumah Bibo sangatlah sepi. Tidak semua rumah memadati kawasan ini. Jarak setiap rumah pun berbeda-beda. Aku baru tahu jika ada daerah seperti ini di kotaku. Di rumahku saja terdapat banyak rumah yang berdekatan. Taman pun bahkan tidak ada di daerah rumahku. Tapi di sini, ada sebuah taman di dekat rumah Bibo. Sepertinya Kimmy menuju arah taman. Lalu kucoba untuk mencarinya di area taman.

Instingku bekerja dengan baik kali ini. Ada salah satu pohon yang menarik perhatianku. Setelah mendekat ternyata sebuah pohon apel. Perlahan aku melangkah menuju pohon itu, aku mendengar isak tangis seorang gadis. Ini pasti Kimmy, yang bersandar di belakang pohon ini.
“Kim,” kataku pelan sembari bersandar di pohon ini, membelakangi Kimmy.
“Pergi!” katanya dengan tersedu-sedu.
“Kim aku minta maaf soal tadi, aku gak bisa lagi menahan emosiku,” kataku mencoba menjelaskan.
“Gak biasanya kamu seperti ini, San!!” katanya lagi. Mendengar hal itu, darahku tiba-tiba terasa mendidih lagi. Seperti aku tidak terima atas pernyataannya.
“Kamu yang gak biasanya seperti ini!!” kataku kesal.
“Lihat!! Kamu udah dibutakan oleh Luna, kan?” tanyanya dengan masih tersedu-sedu.

Kimmy tahu jika aku sedang berusaha mendekati Luna, bagaimana bisa? Aku tak pernah menceritakan misi rahasiaku ini kepada yang lain. Kurasa aku tidak ahli dalam hal menutup-nutupi sesuatu. Mungkin saja aku ini tipe orang yang predictable.
“Luna? Mengapa dengan Luna?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Kau tahu? Kami ini wanita. Kami sering bercurhat satu sama lain. Sebelum ia merebutmu, akan kulakukan apa saja agar kau tetap menjadi milikku,” katanya dengan hati-hati.

Aku sekarang berpikir bahwa Luna-lah yang sendiri memberikan informasi ini ke Kimmy. Wait, tidak mungkin Luna mengetahui misiku selama ini. Aku sudah terampil memerankan aksiku dengan mulus. Atau jangan-jangan ia mengetahui maksudku mendekatinya dari awal. Meskipun ia mengetahui, mengapa ia tak merasa gelisah akan tingkahku padanya. Mungkinkah ini hanya bertepuk sebelah tangan? Bagaimana pula dengan senyuman-senyuman yang sering ia berikan padaku? Apa dia hanya menganggapnya seperti angin saja, perasaanku ini?
“Tapi Kim, aku sudah menganggapmu sebagai sahabat. Aku gak mau kita saling bertukar rasa,” kataku pelan.
“Kenapa sih, kamu gak pernah ngeliat aku, San?” ujar Kimmy dengan suara yang lumayan tenang dari sebelumnya.
“Aku ngeliat kamu kok selama ini,” jawabku.
“Lihat? Apa yang kamu lihat dari aku, San? Kamu selalu menganggapku parasit! Kamu gak sadar kan aku udah suka kamu sejak SMP dulu? Kamu gak tau kan perjuanganku selama ini? Setiap hari aku giat belajar hanya untuk kamu. Kamu gak tau kan gimana usaha aku agar bisa berada di kelas unggulan bersamamu? Kamu gak tau kan ketika ujian sekolah aku berusaha keras untuk bisa melanjutkan ke sekolah yang sama denganmu? Kamu gak tau kan aku berusaha tetap belajar untuk bisa sekelas denganmu di SMA? Kamu gak tau kan aku belajar mati-matian hanya untuk lulus dan masuk ke jurusan yang sama denganmu? Kamu gak tau kan aku rela bbm­­-in kamu hanya untuk nanyain keadaan kamu berkali-kali? Tapi kamu gak pernah sekali pun membalas pesan-pesanku. Kamu gak tau kan gimana rasanya gak dianggap sama orang yang kamu sukai? Kamu gak tau kan? Gak tau kan?” sergah Kimmy padaku. Lalu kudengar lagi isak tangisnya.

Boom. Ucapan Kimmy bagai bom yang telah menghancurkanku. Aku hanyut ke dalam kata-kata Kimmy. Kimmy lebih mengenalku daripada aku mengenal diriku sendiri. Benar, aku adalah pria yang egois, tidak peka, dan aku sadar aku telah masuk ke dalam golongan PHP-er. Tak kusangka pula perjuangan Kimmy untukku selama ini begitu sulit. Itu sebabnya selama enam tahun ini, ia selalu berada di dekatku. Ia rela menghabiskan waktunya hanya untuk mengejarku. Dan yang selalu kulakukan selama ini hanya mengabaikannya. Sekarang aku tak tahu lagi bagaimana menghadapi semua ini. Meninggalkan Kimmy yang telah memberikan dan memperjuangkan segalanya untukku atau memilih Luna yang jelas-jelas belum kuketahui teka-tekinya.
“Gak bisakah kamu nerima aku apa adanya, San? Gak bisakah kamu mencoba mencintai seseorang yang cinta ke kamu?” katanya lirih.
“Maaf Kim, aku gak bisa. Kamu itu sahabat aku sejak SMP. Pertemanan kita bisa hancur hanya gara-gara ini,” kataku.
“Ini udah hancur, San! Kamu udah ngehancurin aku!” ujarnya dengan nada tinggi.
“Kim, kamu itu terlalu sibuk dengan aku, Apa kamu gak sadar ada yang mengagumimu diam-diam selama ini?” kataku lagi berusaha menenangkan suasana.
Tangisannya tiba-tiba berhenti. Tak kudengar lagi suaranya, seketika itu juga ia membisu dan tak merespon pertanyaanku. Aku yakin ia sedang berusaha berpikir tentang perkataanku tadi. Cukup lama kami berdiam diri di pohon apel ini. Aku saja tidak menyadari perasaan Kimmy, apalagi dia yang hanya memikirkanku saja. Pasti ia tak merasakan kehadiran yang lain di hatinya.
“Siapa dia?” tanyanya pelan membuka percakapan kami yang sempat terhenti.
“Bibo,” kataku.
“Bohong!! Kamu bohong!! Aku benci sama kamu, San!!” katanya kasar.
“Tapi aku serius, Bibo..,” tak sempat aku berkata-kata, ia kemudian mengusirku. “PERGI!!” teriaknya lagi. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari taman ini dan kembali ke rumah Bibo. Biarlah ia menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum menghadapi kenyataan.

***
“Gimana, San? Ketemu?” tanya Luna padaku. Aku hanya mengangguk saja menjawab pertanyaan Luna.
“Lalu?” tanyanya lagi. Kugelengkan kepalaku karena tak bisa menjelaskan apa pun. Aku tak bersuara di depan mereka. Tak ada jawaban yang bisa kuberikan kepada teman-temanku karena ini telah menyangkut masalah pribadi. Aku tak mau membuka rahasia Kimmy pada orang lain. Cukup aku dan Kimmy saja yang mengetahui kisah kami.

Luna tak tinggal diam dan segera keluar pergi mencari Kimmy. Yang lain pun membiarkannya. Tak apalah pembicaraan antara dua gadis sangatlah berbeda. Kuharap Luna dapat mengatasi Kimmy dengan baik.
“Gila, keren acting lu, San? Ini bagian dari rencana kita buat Luna kan?” tanya Fikri dengan wajahnya terkagum-kagum.
Acting? Ini masalah serius, Fik. Gak mungkin gue ngelakuin ini, apalagi Kimmy nangis kaya gitu” kataku.
“Hah? Gue kira lu pengen ngacauin suasana agar Luna terbebani pikirannya,” ujar Fikri tak percaya perkataanku.
“Hubungan lu dengan Kimmy gimana dong sekarang?” tanya Adam.
“Gue juga gak tau, Dam. Gue gak tau harus ngapain sekarang,” kataku.

Kulihat Bibo hanya diam dan tak mengatakan apa-apa. Ia terlihat gelisah akan kejadian tadi. Sudah pasti ia gelisah, aku pun merasakan hal yang sama ketika Adam bersama dengan Luna. Bagaimana ia tak gelisah jika melihat orang yang ditaksirnya berduaan denganku. Kuhampiri dia dan duduk di sebelahnya. Meskipun agak ragu-ragu, kemudian kubisikkan di telinganya saat itu juga, “Tenang, Bo. Gue gak ngelakuin apa-apa dengan Kimmy. Gue paham perasaan lu.” Ekspresi Bibo seketika berubah. Ia telah termakan kata-kataku. Tak hanya sekadar menenangkan kegelisahannya, aku berani mengatakannya karena itu sepenuhnya benar dan bisa dipercaya. Bibo melihat ke arahku dan memasang wajah heran. “Suer, gue udah anggep Kimmy sebagai sahabat. Lu aman kok ngedeketin dia,” kataku.

***
Hari ini begitu melelahkan bagiku. Terlalu banyak kejadian yang tak terduga yang cukup membuat mood-ku sedikit kacau. Playlist-ku kali ini pun tidak seperti biasanya. Musik-musik bertema patah hati, kekecewaan, penyesalan, semua kuputar. Kupikir jatuh cinta begitu berisiko untuk diterima. Jika berani jatuh cinta, berarti berani menerima konsekuensinya baik bersifat positif maupun negatif. Patah hati adalah salah satu konsekuensi yang terburuk. Bagaimana tidak jika orang yang sedang disayangi ternyata berpihak pada yang lain? Dari hal ini saja akan timbul gejala-gejala berkelanjutan lainnya.

Sudah waktunya makan malam, aku segera turun ke bawah menemui keluargaku. Semua tampak asyik dengan kegiatannya masing-masing. Ibu sedang menyusun hidangan yang akan kami makan. Revo sedang memainkan gadget-nya dan terlihat serius. Sedangkan Ayah sedang sibuk di dapur memasak makanan lainnya.

Gawat, Ayah yang memasak makan malam kali ini. Semoga saja ia tidak menciptakan makanan yang aneh-aneh. Yang kuingat, makanan terakhir yang dimasaknya adalah ikan gurame goreng dengan saus coca cola. Apa-apaan menu makanan itu. Meskipun bagi Ayah itu sebuah invention, namun aku tidak bisa merasakan kenikmatannya. Beda dengan Ibu yang memang andal di bidang kuliner. Apa pun yang dimasaknya selalu tasty, aku sangat percaya dengan masakan Ibu.
“Jadi gimana kabar Luna? Kalian udah jadian?” tanya Ayah membuka percakapan kami.
“Ngapain nanya-nanya Luna? Bukan urusan Ayah, kan?” kataku.
“Loh, memang bukan urusan Ayah sih, yah siapa tau kamu punya kendala, ya Ayah bisa bantu, kan? Ayah ini berpengalaman loh, tanya aja Ibu kamu tuh,” kata Ayah.
“Ayah kamu itu orang yang romantis loh, di setiap hari ulang tahun Ibu saja, Ayah selalu memberikan hadiah yang berbeda-beda di tiap tahunnya. Ayah juga tahu betul apa-apa saja yang Ibu sukai,” lanjut Ibu membenarkan kata-kata Ayah.
“Memangnya setiap ulang tahun Ayah beliin Ibu apa?” tanyaku penasaran.
“Bunga atau cokelat, semua wanita suka itu kan?” tanya Ayah.
“Yah kalo cuma bunga atau cokelat mah gak begitu romantis-romantis amat. Udah mainstream juga yang begituan,” kataku.
“Hadiah untuk orang yang terkasih seharusnya adalah hadiah yang dapat bertahan lama. Tak hanya itu, hadiah itu harus berupa benda mati sehingga keawetannya terjaga. Hadiah seperti itu juga dapat memberikan kesan dan kenangan tertentu bagi kedua pasangan,” celetuk Revo.
“Encer juga otak lu Vo, makasih sarannya,” kataku sambil mengambil ayam gorang buatan Ayah.
“Jadi Luna sebentar lagi ulang tahun?” tanya Revo padaku.
“Ya begitulah,” kataku sambil menggigit ayam goreng tersebut.
“Heh, ayam goreng apa ini?” tanyaku kaget pada Ayah.
“Ayam goreng saus coca cola,” kata Ayah dengan santainya. Oke, lain kali tak akan lagi kucicipi masakan Ayah.

***
Surprise yang kami buat untuk Luna telah sukses kami lakukan dengan cemerlang. Skenario kami yang tiba-tiba menjauhi Luna membuatnya sempat kesepian dan tak memiliki kejelasan mengapa kami menghindarinya dalam satu harian ini. Meskipun hubunganku dengan Kimmy sudah seperti lost connection, tapi kami tetap bersama-sama dalam menyiapkan kejutan untuk Luna. Fikri juga menyediakan tempat di kafenya untuk merayakan ulang tahun luna. Adam membelikan Luna sebuah boneka beruang yang cukup besar. Bibo menghadiahi Luna sebuah pita. Tak heran juga ia membelikan Luna sebuah pita. Akhir-akhir ini Luna mengenakan pita di kepalanya yang membuatnya jauh lebih kawaii lagi.

Aku sengaja tidak memberikannya hadiah saat ini, semua sudah kuatur kapan waktu yang tepat untuk memberikannya. Hadiah yang kupilih adalah hadiah yang kupikir berharga dan memorable. Bukan sebuah bunga atau cokelat atau barang-barang lainnya seperti boneka. Namun yang telah kusiapkan adalah foto kami berdua yang tengah tertawa dan telah kubingkai sebelumnya. Hadiah seperti ini pasti sangat bertahan lama dan pasti ia akan memajangnya di kamar.

Saat malam tiba, kupikir inilah saat yang tepat untuk memberikannya kejutan lanjutan dariku. Kukenakan wewangian untuk memikatnya kali ini. Niatnya aku berencana untuk menembak-nya sekarang. Kupikir ini waktu yang tepat untuk kami bersama. Setelah semua siap, aku segera pamit dengan Ayah dan Ibu untuk pergi ke tempat Luna. Sebelumnya aku tidak mengabari Luna jika aku akan ke tempatnya. Sengaja kulakukan hal ini untuk membuatnya terkejut.

Sesampainya di depan rumah Luna, kuparkirkan motorku agak jauh dari pintu gebang. Kulihat seorang satpam masuk menuju rumah Luna dan salah seorang diantaranya menghampiriku. Kebetulan pula saat itu aku tengah memegang hadiah yang akan kuberikan ke Luna. Namun satpam itu langsung mengambil hadiah yang hendak kuberikan ke Luna.
“Eit, bapak mau apakan hadiah itu?” tanyaku ketika ia berhasil mengambil hadiah untuk Luna itu.
“Oh gak, bapak liat-liat aja. Siapa tau isinya bom kan, harus diselidiki dulu. Maklum belakangan ini sering ada teror. Jadinya bapak harus waspada,” katanya menjelaskan.
Aku tidak paham apa yang dia maksud, tak kuhiraukan juga yang dikatakannya. Tak lama pintu rumah pun terbuka. Luna keluar dengan dandanan yang cantik. Ia kemudian cepat-cepat menuju pintu gerbang menemuiku. Wajahnya yang riang seketika bingung akan kehadiranku.
“Loh, Ihsan? Aku kira Adam yang dateng,” katanya kebingungan.

Adam? Aku tidak tahu kalau Adam akan datang juga ke sini malam ini. Luna tampak cantik sekali malam ini. Pakaian dan riasan yang dipakainya pun begitu pas untuk suasana malam. Aku juga keheranan mengapa ia berdandan seperti ini. Mungkin saja ia sedang menunggu Adam untuk menjemputnya.
“Eh Luna, kamu mau pergi ke mana?” tanyaku padanya.
Belum sempat ia menjawab, suara motor tiba-tiba terdengar mendekati kami. Aku yakin ini pasti Adam. Sudah pasti ia ingin membawanya ke suatu tempat. Semula kupikir semua akan berjalan mulus seperti yang sudah kurencanakan. Namun Adam sepertinya melakukan pendekatan dengan caranya sendiri. Dan itu terbukti lebih ampuh daripada cara oldschool-ku ini.
“Eh Ihsan? Lu ngapain ke sini,” tanya Adam dengan raut wajahnya yang bingung.
“Eh Adam, oh gak, gue kebetulan berhenti di sini. Gue kira ban motor gue agak kempes jadinya gue periksa dulu,” kataku mencoba berbohong.
“Oh kirain apa, eh Lun, tiket yang ada cuma film yang ini aja,” kata Adam sembari memberikan tiket untuk menonton di bioskop.

Tamatlah riwayat percintaanku ini. Adam lebih unggul dalam berbagai hal dibandingkan denganku. Mungkin sudah saatnya aku menguburkan perasaanku. Semua kecurigaanku selama ini akhirnya terekspos. Aku sudah dapat menyimpulkan bahwa Adam dan Luna memiliki sebuah status yang lebih kuat dibandingkan statusku dengan Luna. Kurasa aku tidak diperlukan lagi saat ini. Aku kemudian berjalan menuju motorku, lalu aku duduk dan menghidupkannya. Luna menyadarinya bahwa aku sudah ingin pulang saja.
“San, mau ke mana?” tanyanya padaku.
“Pulang, motorku ternyata gak apa-apa,” kataku datar. Kemudian aku mulai untuk mengendarai motorku dan mencoba menjauh pergi, mencoba untuk tidak menganggu mereka. Kudengar Luna memanggil namaku seraya menghentikanku. Bagaimana bisa aku tahan di dekat mereka, tak kupedulikan lagi yang ia katakan. Segera kuputar motorku dan kembali ke rumah.

***
Hatiku hancur berkeping-keping saat itu juga. Setelah banyak kejadian yang telah mereka lalui, aku sadar bahwa Luna akan memilih bersama Adam ketimbang denganku. Kurasa aku hanyalah sebuah hiasan untuk mengisi kekosongan sementara baginya. Kini aku percaya bahwa semua yang kami lakukan selama ini hanyalah sandiwara belaka. Untuk apa dia sering memberikan senyumnya, rayunya, kata-katanya jika akhirnya ia menggantungku?

Ini adalah kali kedua aku patah hati. Sebelumnya aku juga telah mengalaminya ketika di SMA dulu. Berbeda saat SMA dulu ketika aku tak melakukan apa-apa. Patah hatiku dulu tak berisiko apa pun. Namun kini begitu berbeda, semua terasa sakit sekali, baik hati maupun pikiran.

“Berani jatuh cinta berarti berani mengambil risiko” adalah pendapatku sendiri. Kata-kata itulah yang selalu terngiang-ngiang di pikiranku. Sudah sepatutnya aku berhati-hati akan permainan yang kumulai sendiri ini. Aku pun teringat akan Kimmy di saat-saat seperti ini. Sekarang aku paham apa yang Kimmy rasakan dua hari yang lalu di bawah pohon apel waktu itu. Rasanya sakit sekali. Tubuh ini seperti ditusuk berkali-kali oleh pedang dari belakang. Tusuk saja aku dari belakang hingga tak ada lagi yang tersisa. Dengan begitu tak ada lagi sakit yang akan kuterima jika semuanya telah hancur.

Sejenak aku berpikir keras atas apa yang aku lakukan selama ini. Kimmy yang jelas-jelas mencintaiku, namun aku malah mengabaikannya, menganggapnya tak ada, dan menyia-nyiakan kesetiaannya. Tak ada lagi pelukannya yang sering ia lakukan padaku setiap kali berjumpa. Tadi saja ia hanya memandangku datar, tak ada lagi emosi yang ia perlihatkan di depanku. Sedangkan Luna, gadis yang kuincar selama ini ternyata lebih dekat dengan temanku sendiri, Adam. Apa lagi yang bisa kuharapkan pada Luna? Ia jelas-jelas tak menyadari kehadiranku.

Namun yang masih mengganjal dipikiranku adalah Luna menyadari jika aku berusaha mendekatinya. Buktinya Kimmy mengatakannya kepadaku di taman waktu itu. Jika Luna sudah tahu, mengapa ia tak memedulikan gelagatku padanya selama ini? Apakah ia tak memiliki rasa yang sama padaku? Kurasa aku tak perlu mempertanyakannya lagi. Adam selalu ada disisinya.

Lama aku diam membisu di kamarku ini. Kegalauan tiada tara telah menghantui pikiranku. Jika seperti ini, aku tidak akan produktif untuk kedepannya. Akhirnya kuputuskan untuk mengambil kembali hadiahku yang ingin kucoba berikan ke Luna tadi. Aku akan buang bingkaian foto tadi sebagai langkah awal untuk melupakannya. Kubuka tasku dan tanganku mulai bergerilya mencari-cari hadiah tersebut. Lho, ke mana perginya hadiah yang telah kusiapkan tadi?


Tak butuh waktu lama untuk aku mengingatnya. Gawat, hadiah yang ingin kuberikan tadi ternyata ketinggalan dan berada di tangan orang yang salah.

to be continued

Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment